JAKARTA — Pemerintah Indonesia melalui Umar Hadi mendesak investigasi menyeluruh, transparan, dan segera atas insiden proyektil dan ledakan misterius di Lebanon Selatan yang menewaskan tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon.
Tiga prajurit yang gugur yakni Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Sementara lima lainnya mengalami luka-luka dan tengah mendapatkan penanganan medis.
Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, menilai langkah pemerintah mendorong investigasi adalah keputusan tepat di tengah kabut informasi konflik.
“Investigasi menjadi kunci untuk mengungkap motif dan modus dari dua kejadian yang terjadi di wilayah tersebut,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Menurut Teguh, insiden ini tidak bisa dilepaskan dari eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Israel dan Iran yang turut menyeret aktor-aktor non-negara seperti Hizbullah.
Ia menjelaskan, sebelum konflik memanas, wilayah penugasan batalion Indonesia relatif aman. Namun situasi berubah drastis seiring meningkatnya serangan dan aksi balasan di kawasan.
“Israel tampaknya berupaya menetralisir kekuatan proxy Iran, dalam hal ini Hizbullah di Lebanon Selatan,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, posisi pasukan penjaga perdamaian menjadi semakin rentan karena berada di antara dua kekuatan yang saling berhadapan.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia menegaskan tetap menjaga sikap objektif dengan tidak terburu-buru menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab sebelum hasil investigasi resmi dirilis.
Indonesia juga menolak menerima klaim sepihak dari pihak-pihak yang terlibat konflik, dan tetap mendorong proses investigasi independen di bawah mekanisme internasional.
“Sikap ini sudah benar,” tegas Teguh.
Langkah tersebut dinilai mencerminkan komitmen Indonesia dalam menjunjung hukum internasional sekaligus melindungi keselamatan personel TNI yang bertugas di wilayah konflik.







