Politik dan Pemerintahan

Prof. Jiang : AS Bakal Ditinggal Negara Teluk Jika Perang Iran Berkepanjangan

20
×

Prof. Jiang : AS Bakal Ditinggal Negara Teluk Jika Perang Iran Berkepanjangan

Sebarkan artikel ini
Prof. Jiang Xueqin
Prof. Jiang Xueqin

JAKARTA — Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga berpotensi menggeser peta kekuatan ekonomi dan teknologi global. Dalam analisis yang berkembang, termasuk dari pemikiran  Pakar Predictive Hystory, Prof. Jiang Xueqin, konflik ini dinilai dapat menjadi titik balik bagi dominasi Barat.

Salah satu premis utama adalah meningkatnya daya saing negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dalam sektor energi, investasi, hingga teknologi. Transformasi ekonomi melalui program diversifikasi—seperti Visi 2030—mendorong kawasan ini keluar dari ketergantungan minyak menuju pusat inovasi baru.

Dalam konteks ini, Israel—yang selama ini unggul dalam teknologi—dipandang mulai menghadapi tekanan kompetitif. Ketegangan dengan Iran kemudian dilihat bukan sekadar konflik keamanan, tetapi juga bagian dari dinamika perebutan pengaruh regional.

Namun, asumsi bahwa agresi militer dapat menghentikan laju transformasi kawasan justru dinilai sebagai kesalahan kalkulasi. Hingga kini, berbagai operasi militer yang disebut-sebut belum mencapai tujuan strategis yang jelas, sementara risiko eskalasi terus meningkat.

Situasi menjadi lebih kompleks ketika muncul wacana serangan terhadap infrastruktur vital Iran, seperti fasilitas energi dan sistem air. Retorika keras Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut kemungkinan “melumpuhkan total” Iran.

Jika skenario ini terjadi, respons Iran hampir pasti bersifat asimetris. Target potensial mencakup fasilitas strategis negara-negara Teluk, termasuk instalasi desalinasi air—yang merupakan tulang punggung kehidupan di kawasan tersebut.

Di titik ini, risiko geopolitik meningkat tajam. Negara-negara Teluk yang selama ini mengandalkan perlindungan keamanan AS bisa mempertanyakan efektivitas jaminan tersebut. Apalagi jika serangan balasan Iran berhasil menembus sistem pertahanan yang didukung Washington.

Dampak lanjutannya tidak berhenti pada aspek keamanan. Kepercayaan investor dapat terganggu, membuka peluang pergeseran aliran investasi dan energi ke blok lain seperti BRICS yang melibatkan China dan Rusia.

Data menunjukkan, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz—jalur yang sangat rentan terhadap konflik. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu disrupsi energi global sekaligus mempercepat realignment ekonomi.

Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa skenario pergeseran dominasi global tidak terjadi secara instan. Amerika Serikat masih memiliki keunggulan struktural dalam inovasi teknologi, sistem keuangan global, serta aliansi strategis.

Namun satu hal menjadi jelas: eskalasi konflik di Timur Tengah kini tidak lagi berdampak lokal. Ia telah menjadi variabel penting dalam menentukan arah kekuatan ekonomi, teknologi, dan geopolitik dunia ke depan.

Dengan dinamika yang terus berkembang, dunia menghadapi fase ketidakpastian baru—di mana keputusan militer hari ini dapat menentukan peta kekuatan global dalam dekade mendatang.