Partai Liberal Demokrat (LDP) pimpinan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dipastikan meraih lebih dari dua pertiga kursi di Majelis Rendah parlemen. Kemenangan telak ini memungkinkan LDP membentuk pemerintahan tanpa mitra koalisi dan membuka ruang perubahan kebijakan secara lebih agresif.
Hasil tersebut menandai keberhasilan perjudian politik Takaichi yang menggelar pemilu dadakan pada Januari lalu. Pemilu itu sejak awal dipandang sebagai referendum atas kepemimpinannya sejak dilantik menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang pada Oktober.
“Kami meminta penilaian publik atas perubahan besar kebijakan ekonomi dan fiskal. Kami berkampanye dengan pendekatan yang bertanggung jawab dan proaktif,” kata Takaichi.
Visi masa depan Jepang yang ia tawarkan terbukti mendapat respons kuat dari pemilih, terutama kalangan muda. Dukungan itu turut didorong oleh gaya populis, janji peningkatan pertumbuhan ekonomi, serta strategi kampanye digital yang agresif.
Namun, Takaichi yang dikenal ultra-konservatif juga menuai kritik. Sikap kerasnya terhadap imigrasi dinilai memicu polarisasi di negara yang relatif homogen. Ia juga vokal mendorong revisi konstitusi pasifis Jepang, langkah yang lama menjadi agenda kontroversial.
Di kancah internasional, Takaichi mendapat dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebaliknya, hubungan dengan Beijing memanas setelah ia menyatakan Jepang siap bertindak bila China menginvasi Taiwan.
Kemenangan ini datang di tengah kondisi LDP yang sebelumnya tertekan skandal dan bangkitnya aliansi oposisi baru. Meski demikian, hasil pemilu menunjukkan pergeseran preferensi pemilih ke arah konservatisme.
Meski menang besar, Takaichi kini menghadapi tantangan membuktikan janjinya untuk “bekerja, bekerja, dan bekerja” demi menjawab ekspektasi publik yang terbelah atas arah baru Jepang.




