Internasional

Gara-gara Donald Trump, NATO Bisa Bubar Sebelum Ulang Tahun ke-78

21
×

Gara-gara Donald Trump, NATO Bisa Bubar Sebelum Ulang Tahun ke-78

Sebarkan artikel ini
Pertemuan Para Pemimpin Negara NATO
Ilustrasi : Pertemuan Para Pemimpin Negara NATO

WASHINGTON — Peringatan hari jadi ke-77 NATO pada 4 April berlangsung dalam bayang-bayang perpecahan dan bubar, menyusul pernyataan keras Presiden AS Donald Trump yang kembali mempertanyakan relevansi aliansi tersebut.

Aliansi yang didirikan pada 1949 melalui penandatanganan 12 negara anggota awal—dan diperkuat oleh pidato Presiden Harry S. Truman—kini menghadapi ujian serius dari dalam, justru oleh anggota paling dominan.

Dalam beberapa pekan terakhir, retorika dari Washington menunjukkan kekecewaan terhadap negara-negara Eropa yang dinilai tidak memberikan dukungan maksimal terhadap operasi AS, khususnya terkait konflik dengan Iran.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan mempertanyakan manfaat NATO jika sekutu tidak memberikan akses pangkalan militer saat dibutuhkan.

“Jika kita tidak bisa menggunakan pangkalan itu untuk kepentingan pertahanan Amerika, lalu untuk apa NATO?” ujarnya dalam wawancara media.

Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan pemimpin Eropa. Mantan Duta Besar AS untuk NATO, Kurt Volker, menilai sikap Trump harus disikapi serius, meski tidak sepenuhnya rasional.

“Trump frustrasi terhadap Eropa, dan itu bisa berdampak pada kebijakan nyata,” katanya.

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron mulai menunjukkan sikap lebih tegas dengan mengingatkan agar komunikasi tidak memperkeruh situasi.

Ketegangan ini juga dipicu perbedaan pendekatan terhadap konflik Iran, termasuk soal penggunaan pangkalan militer di Eropa dan kurangnya konsultasi strategis antar sekutu.

Meski demikian, banyak kalangan di AS—baik dari Kongres maupun publik—masih memandang NATO sebagai pilar penting keamanan global. Fakta bahwa Pasal 5 NATO hanya pernah diaktifkan sekali, yakni untuk membela AS pasca serangan 11 September, menjadi pengingat kuat akan solidaritas aliansi.

Upaya meredakan ketegangan kini diharapkan datang dari Sekjen NATO, Mark Rutte, yang dijadwalkan melakukan kunjungan ke Washington guna membuka kembali jalur dialog.

Situasi ini menandai fase krusial bagi NATO—apakah tetap solid sebagai aliansi pertahanan kolektif, atau justru tergerus oleh perbedaan kepentingan di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.