Internasional

AS-Iran Klaim Menang Perang, Popularitas Donald Trump Melorot

×

AS-Iran Klaim Menang Perang, Popularitas Donald Trump Melorot

Sebarkan artikel ini
Perang Iran - Amerika Serikat
Ilustrasi : Perang Iran - Amerika Serikat

DOHA — Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas. Di tengah kabar adanya jalur diplomasi di balik layar, pernyataan publik kedua pihak justru menunjukkan konfrontasi terbuka yang semakin tajam.

Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt melontarkan ancaman keras. Ia menyebut Iran harus menerima “realitas kekalahan militer” atau bersiap menghadapi serangan yang lebih dahsyat.

“Jika Iran gagal memahami situasi ini, Presiden Donald Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras dari sebelumnya. Presiden tidak menggertak,” tegas Leavitt.

Ancaman itu muncul di tengah pengerahan besar-besaran militer AS ke kawasan Timur Tengah, termasuk ribuan marinir dan unit elit 82nd Airborne Division yang dikenal sebagai pasukan reaksi cepat.

Namun, Teheran justru membalik narasi. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan tidak ada negosiasi dengan Washington. Ia bahkan menyebut klaim AS soal perundingan sebagai tanda kelemahan.

“Tidak ada negosiasi. Justru fakta bahwa mereka berbicara soal itu menunjukkan mereka mulai menerima kekalahan,” ujarnya.

Di lapangan, konflik terus memakan korban. Serangan udara dilaporkan menghantam kota Shiraz, menewaskan dua anak, sementara ledakan juga mengguncang Mashhad. Sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah saat rudal dan drone terus dipertukarkan.

Presiden Trump di sisi lain tetap mengklaim kemenangan. Dalam sebuah acara politik, ia menyebut Iran “ingin bernegosiasi” namun takut mengakuinya.

“Kami menang besar. Mereka ingin membuat kesepakatan, tapi takut,” katanya.

Meski demikian, tekanan domestik di AS meningkat. Survei terbaru menunjukkan popularitas Trump merosot di kisaran 36 persen, dipicu lonjakan harga energi akibat perang yang terus berkepanjangan.

Situasi ini memperlihatkan paradoks: diplomasi disebut berjalan, tetapi retorika perang justru semakin brutal. Dengan pengerahan pasukan dan ancaman serangan lanjutan, risiko konflik meluas kini kian terbuka—tanpa kepastian kapan akan berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *