TEHERAN – Iran mulai membuka arah baru dalam negosiasi dengan Amerika Serikat di tengah memanasnya konflik kawasan Teluk. Teheran disebut telah menyiapkan proposal tiga tahap yang akan disampaikan melalui mediator Pakistan kepada Washington.
Meski begitu, Iran tetap bersikeras mempertahankan kontrol penuh atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Laporan itu disampaikan jurnalis AlJazeera dari Teheran, Resul Serdar, Kamis (7/5/2026), menyusul meningkatnya tekanan diplomatik pasca-operasi militer Amerika di kawasan Teluk.
Anggota Parlemen Iran sekaligus mantan Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki, mengatakan respons resmi Teheran terhadap proposal Amerika kemungkinan disampaikan dalam waktu dekat.
Menurut sumber di Teheran, Iran menilai sebagian isi proposal Amerika terlalu maksimalis, tidak realistis, dan sulit diterima.
Namun demikian, Iran mengakui terdapat perkembangan signifikan dalam jalur diplomasi yang sedang berlangsung.
Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan skema penyelesaian konflik dalam tiga tahap.
Tahap pertama difokuskan pada penghentian perang di seluruh front konflik, termasuk jaminan bahwa perang tidak kembali pecah.
Iran juga menuntut pencabutan blokade Amerika serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Teheran meminta jaminan resmi dari Dewan Keamanan PBB terkait penghentian konflik tersebut.
Meski membuka jalur damai, Iran menegaskan tidak akan melepaskan pengaruh dan kontrol strategisnya atas Selat Hormuz.
“Iran meyakini lingkungan strategis kawasan sudah berubah dan mereka tidak akan menyerahkan Selat Hormuz,” demikian laporan dari Teheran.
Jika tahap pertama berhasil dalam 30 hari, Iran siap masuk ke tahap kedua berupa pembahasan program nuklir.
Dalam tahap ini, Iran disebut mulai menunjukkan fleksibilitas, namun tetap menolak menghentikan pengayaan uranium untuk kepentingan damai.
Sementara tahap ketiga akan difokuskan pada pembentukan tatanan keamanan baru kawasan Timur Tengah bersama negara-negara regional tanpa keterlibatan Amerika Serikat.
Iran juga menegaskan isu program rudal balistik, kebijakan keamanan regional, dan hubungan dengan kelompok sekutu non-negara tidak masuk dalam agenda negosiasi saat ini.
Sikap keras Teheran terhadap Selat Hormuz diperkirakan menjadi tantangan utama bagi Washington, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi global.








