SUKABUMI – Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat mengungkap rahasia ketahanan pangan masyarakat kampung adat Sunda yang dinilai mampu bertahan menghadapi krisis pangan, cuaca ekstrem, hingga pandemi.
Hal itu terungkap saat tim inti MASDA Jabar melakukan kunjungan ke Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi pada April 2026.
Tim yang terdiri dari Prof Dany Hilman, Bunda Rr Okky JJ, Ki Pamanah Rasa Abah Oman R dan anggota lainnya diterima langsung Ketua Kampung Adat Abah Ugi dan Abah Yoyo.
Dalam kunjungan tersebut, MASDA meneliti sistem ketahanan pangan tradisional masyarakat adat, khususnya konsep Leuit Salawe, yakni gudang penyimpanan padi dan beras berbasis teknologi buhun Sunda.
Ketua Umum MASDA Jabar, Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan, menyebut konsep leuit menjadi salah satu kunci utama mengapa masyarakat kampung adat mampu bertahan selama puluhan tahun tanpa mengalami krisis pangan.
“Jarang sekali terdengar masyarakat kampung adat mengalami kelaparan, stunting, atau krisis pangan, meski diterpa musim ekstrem. Mereka tetap tegak dan survive menjaga ketahanan pangan dan lingkungannya,” ujar Abah Anton, Rabu (7/5/2026).
Menurutnya, konsep Leuit Salawe bukan sekadar gudang penyimpanan beras biasa, melainkan sistem logistik tradisional yang mampu menjaga kualitas beras hingga puluhan tahun.
Bunda Rr Okky JJ mengaku terkejut saat melihat langsung beras berusia 15 tahun di Kampung Cipta Gelar yang masih dalam kondisi bersih dan utuh.
“Kami disuguhi beras yang sudah disimpan 15 tahun, tapi masih segar dan tidak dimakan kutu. Artinya mereka punya cadangan pangan jangka panjang yang nyata,” ujarnya.
MASDA menilai teknologi penyimpanan pangan tradisional masyarakat adat justru lebih unggul dibanding sistem modern saat ini.
Abah Anton menyinggung masih sering ditemukannya beras rusak dan berkutu di gudang modern meski baru disimpan beberapa tahun.
“Teknologi buhun Sunda ternyata lebih hebat dalam menjaga kualitas pangan. Ini fakta yang harus diakui,” katanya.
Selain ketahanan pangan, tim MASDA juga menemukan berbagai teknologi tradisional lain yang dinilai masih relevan hingga sekarang.
Prof Dany Hilman menyebut masyarakat adat memiliki teknologi pertanian ramah lingkungan, pupuk alami, sistem anti hama, hingga konstruksi rumah tahan gempa.
“Banyak teknologi masa lalu yang justru lebih unggul dan tetap terjaga di kampung adat,” kata Prof Dany.
Sementara itu, Ki Pamanah Rasa Abah Oman R menyoroti sistem keamanan lingkungan masyarakat adat yang disebut mampu menciptakan kondisi zero kriminalitas melalui konsep jaga baya.
MASDA menilai kampung adat Sunda menyimpan banyak kearifan lokal yang selama ini kurang diperhatikan negara.
“Jangan anggap kampung adat itu tertinggal. Mereka justru menyimpan mutiara peradaban yang membuat masyarakatnya tetap mandiri dan survive di tengah arus globalisasi,” pungkas Abah Anton.






