WASHINGTON – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menghentikan Project Freedom kurang dari 48 jam setelah operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz itu diumumkan.
Langkah mendadak tersebut langsung dimanfaatkan Iran untuk mengklaim kemenangan politik atas Washington.
Media pemerintah Iran menyebut penghentian operasi itu sebagai bentuk kemunduran Amerika Serikat setelah gagal memaksa Teheran menyerah dalam konflik kawasan Teluk.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berdalih fase ofensif perang telah selesai karena target operasi dianggap tercapai.
“Operasi Epic Fury sudah selesai. Kami sekarang masuk ke Project Freedom,” kata Rubio dalam wawancara dengan Deutsche Welle.
Rubio juga menegaskan pasukan AS tidak perlu memasuki wilayah udara maupun perairan Iran karena Washington mengklaim tetap menguasai Selat Hormuz.
Namun pernyataan itu menuai keraguan setelah sebelumnya Trump mengklaim Iran telah sepakat menghentikan program nuklir, rudal balistik, hingga membuka kembali Selat Hormuz. Klaim tersebut belakangan dinilai tidak terbukti.
Analis geopolitik Timur Tengah Siavush Randjbar-Daemi menilai penghentian cepat Project Freedom menunjukkan posisi AS semakin sulit di kawasan.
Menurutnya, Washington ingin menunjukkan dominasi militer tanpa harus terseret perang terbuka yang berisiko besar terhadap ekonomi global dan stabilitas politik kawasan.
“AS ingin terlihat kuat, tetapi pada saat yang sama mereka berusaha menghindari perang besar dengan Iran,” ujar Siavush.
Ia menilai Iran berhasil memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik paling efektif terhadap AS dan sekutunya.
Karena itu, penghentian Project Freedom dipandang sebagai sinyal bahwa Washington mulai menyadari tingginya risiko eskalasi jika operasi tetap dipaksakan berjalan.
Meski demikian, AS memastikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap dilanjutkan.
Situasi tersebut membuat ketegangan di Timur Tengah belum benar-benar mereda dan sewaktu-waktu bisa kembali meledak.








