Daerah

Anak Haram Konstiusi Bagaikan Mentimun Bungkuk

58
×

Anak Haram Konstiusi Bagaikan Mentimun Bungkuk

Sebarkan artikel ini
Gibran Rakabuming Raka
Gibran Rakabuming Raka

 

Oleh : Syafril Sjofyan, Pemerhati Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78, Sekjen Forum Tanah Air

 

GIBRAN Rakabuming Raka adalah “anak haram konstitusi” berkaitan dengan putusan kontroversial Mahkamah Konstitusi (MK) pada tahun 2023 mengenai syarat usia cawapres. Putusan ini memungkinkan Gibran (saat itu Wali Kota Solo baru 2 tahun) maju sebagai cawapres meski belum 40 tahun.

Mengapa kontroversial? Karena Ketua MK saat itu, Anwar Usman, adalah paman Gibran (adik ipar Joko Widodo). Masalah utamanya konflik kepentingan (conflict of interest). Dewan Etik MK kemudian menyatakan Anwar Usman melanggar etik berat dan mencopotnya dari jabatan Ketua MK.

Putusan MK bersifat final dan mengikat, walaupun pencalonannya sah menurut aturan yang berlaku saat itu. Namun secara politik prosesnya tidak etis/ cacat moral. Istilah “anak haram konstitusi” muncul sebagai kritik keras terhadap proses tersebut sebagai bentuk protes politik sehingga tidak lagi terjadi dikemudian hari.

Posisi Gibran yang selalu dibayangi sebagai Wapres melalui isu “jalur istimewa” lebih tegasnya “jalur perselingkuhan” sangat rentan diserang secara politik. Seharusnya dia harus bekerja ekstra keras untuk membuktikan kapasitas, namun apalacur karena pendidikannya ternyata juga tidak sampai “wapres tak lulus SMA”. Dia ibarat “Mentimun Bungkuk” dalam pemerintahan sekarang. Secara faktual tidak ada peran penting sebagai wapres yang bisa dia lakukan.

Peribahasa asal Minang yakni “bagai mentimun bungkuk, keluar tak ganjil, masuk tak genap.” artinya ada keberadaannya tapi tidak dihitung. Bagi Gen-Z perlu juga dijelaskan tentang kisah mentimun bungkuk. Mentimun Bungkuk atau Ketimun Bongkeng dalam istilah Betawi adalah simbol keberadaan atau eksistensi manusia yang sangat buruk.

Adanya tak menggenapkan, tiadanya tak mengganjilkan. Selalu terbawa ke mana saja, tapi tak pernah masuk dalam bilangan, ketika pedagang menghitung jumlah mentimun yang lurus, sementara untuk yang bungkuk hanya sebagai pencukup timbangan saja, kadang tak ada tempat yang baik baginya, kecuali bermuara di tong sampah, sampai membusuk.

Peribahasa ini gambaran kondisi seseorang di tengah komunitasnya lebih tepatnya diputaran kekuasaan pemerintahan, antara ada dan tiada. Maksudnya, seseorang yang diibaratkan dengan mentimun bungkuk tersebut hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi tidak bisa memberikan kontribusi apapun atau lebih buruknya tidak dianggap ada sama sekali. Kenapa? Karena “tidak berilmu”, “tidak pandai”. Pada kalangan tertentu “Mentimun Bungkuk” ada pula yang mengartikannya sebagai “sampah masyarakat”.

Hal-hal inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat tidak menginginkan keberadaan orang tersebut. Tergambarkan betapa sinisme dan sarkasme terhadap Gibran bermunculan di sosmed. Bahkan selama setengah tahun Pemerintahan Prabowo, isu tentang pemakzulan Gibran tetap bermunculan. Menjadi isu yang terus hidup ditengah masyarakat. Hal yang sangat ditakuti Jokowi, karena bisa “menghancurkan mimpinya” untuk meneruskan dinasti.

Presiden Prabowo sepertinya paham bahwa wapres nya sebagai “beban dipundaknya”, sehingga sama sekali tidak memberikan fungsi – fungsi penting kepada wakilnya, apakah sebagai pengawas pembangunan dan lainnya.

Hanya karena disebabkan masih adanya hubungan “sentimen asal muasal” sang Presiden memenangkan pilpres “atas jasa” Jokowi bapaknya Gibran, sehingga keberadaan sang mentimun bungkuk ini belum/ tidak benar-benar dibuang atau dihilangkan sama sekali. Sepertinya hanya sebagai pajangan semata.

Manusia dalam kualifikasi Mentimun Bungkuk, keluar dari lini kodrati eksistensi diri manusia. Karena sebagai makhluk berakal, “manusia paripurna” mempunyai keseimbangan jiwa dan raga, spiritual dan material dengan nilai-nilai hidup yang dihasilkan oleh kemauan dan kemampuannya mengelola nalar, naluri, rasa, dan indira secara berkeseimbangan. Sehingga berguna dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Akan halnya sang Mentimun Bungkuk karena berbeda dengan Manusia Paripurna, jika bermain-main dengan kekuasaan akan mudah menjadi “hamba iblis”. Berbahaya! Menganalisisnya harus satu artikel terpisah. Selamat lebaran.

Bandung 30 Maret 2026
*)