BERLIN – Pemerintah Jerman mulai menyiapkan skenario terburuk menghadapi ancaman perang di kawasan Eropa. Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt mengumumkan paket besar penguatan pertahanan sipil senilai miliaran euro, menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik dengan Rusia pasca invasi ke Ukraina sejak 2022.
Langkah itu mencakup pembangunan pusat komando pertahanan sipil baru, penambahan 110 ribu tempat tidur darurat hingga 2029, peningkatan kapasitas rumah sakit, kendaraan evakuasi, hingga sistem aplikasi peringatan publik yang lebih modern.
“Perlindungan sipil harus diperluas mengingat situasi yang kita hadapi saat ini. Ancaman hybrid, termasuk dari Rusia, terus meningkat,” ujar Dobrindt.
Pemerintah Jerman juga mulai menghidupkan kembali konsep bunker perlindungan warga sipil yang selama puluhan tahun ditinggalkan usai Perang Dingin. Sejumlah bunker lama di Berlin kini tengah dievaluasi ulang kapasitas dan fungsinya.
Kebijakan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran NATO terhadap potensi konflik terbuka di Eropa dalam beberapa tahun ke depan. Sejumlah pejabat keamanan Eropa bahkan memperingatkan Rusia berpotensi menyerang negara anggota NATO sebelum 2029.
Selain penguatan infrastruktur sipil, Berlin juga mulai mendorong pelatihan pertahanan sipil di sekolah-sekolah. Pemerintah ingin masyarakat memiliki kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, mulai dari serangan militer, sabotase infrastruktur, hingga gangguan listrik massal.
Sebelumnya, Jerman lebih fokus pada mitigasi bencana alam seperti banjir, badai, dan kebakaran. Namun dinamika geopolitik global memaksa pemerintah mengubah paradigma keamanan nasional.
Sejak perang Rusia-Ukraina pecah, Jerman telah menggelontorkan sekitar 300 miliar euro untuk memperkuat militernya. Meski demikian, sejumlah kalangan oposisi menilai kesiapan sipil negara itu masih jauh dari memadai.
Latihan gabungan antara militer, rumah sakit, dan layanan darurat pun mulai rutin digelar. Dalam simulasi terbaru pada Maret lalu, pasukan NATO melakukan latihan evakuasi korban perang untuk memastikan koordinasi berjalan efektif apabila konflik benar-benar meluas ke wilayah Eropa.
Pengamat menilai langkah Jerman ini menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara Eropa kini tidak lagi hanya mempersiapkan perang di garis depan, tetapi juga mulai membangun “benteng sipil” di dalam negeri menghadapi era ketidakpastian geopolitik global. (Sumber : DW News)




