DOHA – Mantan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Iran, Rob Malley, soal situasi pelik yang dihadapi AS dalam mengakhiri perang dengan Iran tanpa kehilangan muka.
Menurut dia, salah besar jika Donald Trump merasa telah menang perang katena kenyataannya di tertekan. Indikator sebenarnya terletak pada dampak ekonomi global yang kini mulai terasa, mulai dari kenaikan inflasi Amerika Serikat, gangguan energi dunia, hingga ribuan penerbangan internasional yang terganggu akibat krisis di kawasan Timur Tengah.
“Hal-hal yang benar-benar memukul masyarakat biasa adalah harga energi, makanan, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi,” ujarnya.
Malley juga menilai Iran tetap mampu bertahan meski menghadapi tekanan ekonomi dan serangan militer besar-besaran dari Amerika Serikat dan Israel.
“Metrik utama bagi Iran adalah mereka masih berdiri dan masih mampu mengganggu ekonomi global,” katanya.
Ia membandingkan pola pikir pemerintahan Trump dengan pendekatan era Perang Vietnam di bawah Presiden Lyndon Johnson, ketika kemenangan diukur dari jumlah target yang dihancurkan, namun gagal membaca ketahanan lawan.
“Ini mentalitas lama. Mereka pikir kalau ekonomi dihancurkan maka lawan akan menyerah. Tapi sejarah menunjukkan tidak sesederhana itu,” ucap Malley.
Dalam pembahasan lain, Malley menyebut China justru berada dalam posisi diuntungkan di tengah konflik yang memanas antara AS dan Iran.
Menurutnya, Beijing bisa tampil sebagai mediator perdamaian sekaligus tetap mendapatkan keuntungan ekonomi dari hubungan energinya dengan Iran dan negara-negara Teluk.
“Jika perang terus berlangsung, AS terlihat makin tidak stabil dan tidak bisa diprediksi. China justru tampak lebih tenang di mata dunia,” ujarnya.
Malley mengatakan pemerintahan Trump juga dinilai tidak konsisten dalam negosiasi. Ia mengungkapkan posisi Washington kerap berubah hanya dalam hitungan jam.
“Satu hari utusan Trump mengatakan sesuatu, beberapa jam kemudian presiden mengubah arah setelah melihat tayangan televisi,” sindirnya.
Ia menegaskan Iran tidak akan pernah menerima skenario menyerah total kepada tekanan Amerika Serikat.
“Mereka percaya jika menyerah di isu nuklir, maka besok akan dipaksa menyerah di isu rudal, drone, dan pengaruh regional,” kata Malley.
Terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan baru, Malley menilai peluang tetap ada, namun hanya jika Washington mengambil posisi yang rasional, konsisten, dan menghormati kepentingan semua pihak.
Ia juga menyinggung peran Benjamin Netanyahu yang dinilai bisa menjadi faktor pengganggu jika kesepakatan Iran-AS tercapai.
Meski demikian, Malley percaya Trump masih memiliki pengaruh besar terhadap Israel.
“Jika Trump benar-benar mengatakan cukup, maka Netanyahu pada akhirnya tidak punya banyak pilihan selain mengikuti,” pungkasnya. (Sumber : AlJazeera)








