Oleh: Sony Fitrah Perizal, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat
DUNIA berubah cepat. Sangat cepat.
Dulu Donald Trump datang ke Beijing seperti seorang sheriff ekonomi dunia. Ia menekan China dengan tarif. Menggertak lewat perang dagang. Menganggap Beijing ancaman utama Amerika.
Hari ini suasananya berbeda.
Trump datang ke China bukan hanya membawa kepentingan dagang. Tetapi juga membawa kebutuhan geopolitik.
Ia butuh Xi Jinping.
Itulah inti perubahan dunia hari ini.
Amerika memang masih negara paling kuat secara militer. Tetapi perang Iran membuat Washington mulai menyadari satu hal penting: dunia tidak lagi bisa dikendalikan sendirian.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling menentukan.
Kalau jalur itu terganggu:
minyak naik, logistik dunia terguncang, inflasi global meledak, ekonomi Barat limbung.
Dan China punya posisi yang unik di sana.
Beijing adalah pembeli energi terbesar Iran. Sekaligus satu-satunya kekuatan besar yang masih punya jalur komunikasi relatif stabil dengan Teheran.
Maka ketika Trump meminta Xi membantu meredakan situasi Iran, itu bukan sekadar diplomasi biasa.
Itu tanda bahwa Amerika mulai menerima realitas baru: China bukan lagi sekadar pesaing. Tetapi juga bagian dari solusi global.
Di sinilah geoekonomi bekerja.
Hari ini perang tidak lagi hanya soal tank dan rudal.
Tetapi:
rantai pasok, energi, jalur laut, chip semikonduktor, pangan, dan pengaruh ekonomi.
China memahami itu lebih awal.
Mereka membangun kekuatan bukan lewat invasi militer besar-besaran, tetapi melalui:
manufaktur, perdagangan, investasi global, dan ketergantungan ekonomi dunia terhadap produk China.
Amerika terlambat menyadari bahwa globalisasi yang dulu mereka ciptakan justru melahirkan rival baru yang sangat kuat.
Trump tahu itu.
Karena itu ia mencoba membangun pendekatan personal dengan Xi Jinping.
Trump selalu percaya hubungan personal antar pemimpin bisa mengubah arah politik dunia.
Ia pernah dekat dengan Kim Jong Un. Pernah dekat dengan Putin. Kini ia mencoba membangun kedekatan ulang dengan Xi.
Ada sisi menarik dari hubungan mereka.
Xi berbicara tentang:
“great rejuvenation of the Chinese nation.”
Trump berbicara:
“Make America Great Again.”
Keduanya menjual mimpi kebangkitan bangsa.
Keduanya sama-sama nasionalis.
Keduanya ingin negaranya kembali dominan.
Tetapi masalahnya: dua matahari tidak mudah bersinar di langit yang sama.
Karena di balik senyum diplomasi itu, persaingan mereka tetap keras.
China ingin mengurangi dominasi dolar. Amerika ingin mempertahankan supremasi globalnya.
China memperkuat BRICS. Amerika memperkuat NATO dan aliansi Indo-Pasifik.
China membangun jalur perdagangan baru. Amerika membangun blokade teknologi.
Persaingan itu tidak akan selesai dalam satu pertemuan.
Tetapi dunia sekarang memasuki fase baru: kompetisi sambil bekerja sama.
Mereka bertarung. Tetapi tidak bisa benar-benar berpisah.
Amerika membutuhkan manufaktur China. China membutuhkan pasar Amerika.
Dan dunia membutuhkan keduanya tetap stabil.
Karena kalau hubungan Washington dan Beijing benar-benar pecah, yang runtuh bukan hanya dua negara itu.
Tetapi ekonomi global.
Indonesia harus memahami arah perubahan ini.
Karena kita hidup di tengah pertarungan geoekonomi terbesar abad ini.
Kita tidak cukup hanya menjadi pasar. Tidak cukup hanya menjadi penonton.
Indonesia harus mulai memikirkan:
ketahanan energi, hilirisasi, pangan, teknologi, dan posisi strategis dalam rantai pasok global.
Sebab ke depan, negara yang kuat bukan hanya yang punya tentara besar.
Tetapi yang mampu mengendalikan: energi, industri, teknologi, dan logistik dunia.
Dan China sedang menunjukkan bagaimana strategi itu dijalankan dengan sangat sabar.








