CIREBON – Di banyak tempat, sejarah sering ditulis dengan suara perang.
Tentang perebutan tahta. Tentang darah. Tentang kemenangan satu pihak atas pihak lain dan tentang pemenang kekuasaan dan pihak yg dikalahkan.
Tetapi sejarah Sunan Gunung Jati berbeda. Sebagai Pemimpin Politik sekaligus sebagai Tokoh Agama yg berpegaruh
Ia datang bukan sekadar membawa kekuasaan duniawi tetapi ia juga membawa negerinya kepada alam spiritual. Ia membawa sebuah peradaban.
Namanya hingga kini masih disebut penuh hormat di tanah Sunda: Sunan Gunung Jati. Salah satu dari Wali Songo yang jejaknya melampaui batas agama, politik, bahkan zaman.
Di Cirebon, namanya tidak hanya hidup dalam manuskrip tua atau cerita keraton.
Ia hidup dalam nafas kebudayaan masyarakat yg melekat di setiap denyut nadi ummat.
Masjid.
Tradisi.
Bahasa.
Kesantunan.
Bahkan cara orang Sunda pesisir memandang dunia.
“Beliau bukan hanya tokoh agama. Sunan Gunung Jati adalah arsitek peradaban Sunda-Islam yg melegenda,” kata tokoh budaya Jawa Barat, RR Okki Jusuf Judanagara, saat berbincang mengenai warisan besar Kesultanan Cirebon.
Dari Mesir, Arab, Pajajaran, hingga Cirebon
Sejarah mencatat, Sunan Gunung Jati lahir dengan nama Syarif Hidayatullah.
Ia memiliki garis keturunan yang unik dan besar.
Dari jalur ayah, ia tersambung ke tradisi ulama Timur Tengah sampai kepada Rasulullah.
Dari jalur ibu, ia terhubung dengan bangsawan Sunda sampai kepada Raja Sunda Terkenal Prabu Siliwangi III.
Mungkin karena itulah ia mampu menjadi jembatan.
Antara Islam dan budaya lokal.
Antara dakwah dan tradisi klasik Sunda.
Ia tidak datang membawa penghancuran budaya.
Ia justru merawat dan melestarikannya.
Menurut RR Okki, inilah yang membuat dakwah Sunan Gunung Jati diterima luas di Tanah Sunda bahkan Nusantara.
“Beliau memahami bahwa masyarakat Sunda tidak bisa disentuh dengan kekerasan budaya. Dakwah dilakukan dengan pendekatan akhlak, seni, perdagangan, dan keteladanan,” ujarnya.
Di abad ke-15, wilayah Barat Pulau Jawa sedang berada dalam masa transisi besar.
Kerajaan Pajajaran masih berdiri kuat sebagai simbol kekuasaan Sunda Hindu Wisnu.
Sementara Islam mulai tumbuh subur di pesisir utara Jawa melalui jalur perdagangan internasional.
Cirebon saat itu hanyalah bandar kecil yg disebut sebagai Kerajaan Singapura.
Tetapi bandar kecil itu perlahan berubah menjadi pusat peradaban baru.
Ketika Kekuasaan Diserahkan Tanpa Perang
Salah satu bagian paling menarik dalam sejarah Cirebon adalah proses pergantian kekuasaan dari Pangeran Cakrabuana kepada Sunan Gunung Jati.
Tidak ada kudeta.
Tidak ada perang saudara.
Yang terjadi justru penyerahan kepemimpinan. Dari seorang Raja kepada kemenakannya.
Pada 1479, Sunan Gunung Jati resmi memimpin Cirebon dan menjadi Sultan Cirebon pertama.
Ia bukan hanya pemimpin agama, tetapi kepala pemerintahan.
Di titik inilah sejarah berubah.
Cirebon tumbuh menjadi pusat penyebaran Islam paling penting di Tatar Sunda.
Pelabuhan berkembang.
Ulama berdatangan.
Hubungan diplomatik dibangun dengan berbagai kerajaan.
“Cirebon di bawah Sunan Gunung Jati adalah contoh bagaimana agama dan pemerintahan berjalan berdampingan tanpa rasa kebencian atau rasa kehilangan nilai kemanusiaan,” kata RR Okki.
Menaklukkan Pajajaran, Tetapi Tidak Menghapus Nilai Nilai yg diturunkan Raja Raja Sunda
Banyak orang melihat penaklukan Pajajaran semata sebagai kemenangan politik Islam atas kerajaan Hindu Sunda.
Padahal sejarah jauh lebih rumit dari itu.
Sunan Gunung Jati tidak menghapus identitas Sunda.
Ia justru memasukkan nilai Islam ke dalam struktur budaya Sunda.
Bahasa Sunda tetap hidup.
Tradisi tetap dijaga.
Kesenian tidak dimatikan.
Karena itu Islam di tanah Sunda berkembang tanpa benturan besar seperti di banyak wilayah lain.
Inilah warisan terbesar Sunan Gunung Jati:
Islam yang membumi.
Bukan Islam yang marah kepada budaya.
Tetapi Islam yang memberi ruh baru pada kebudayaan.
Fatahillah dan Mimpi Besar Nusantara
Nama besar lain yang tidak bisa dipisahkan dari Sunan Gunung Jati adalah Fatahillah.
Ia adalah menantu Sunan Gunung Jati.
Tokoh penting yang kemudian dikenal sebagai penakluk Portugis di Sunda Kelapa.
Ketika Sunan Gunung Jati wafat pada 1568, Fatahillah naik menjadi Sultan Cirebon II.
Masa pemerintahannya memang singkat.
Hanya dua tahun.
Tetapi pengaruhnya besar.
Di era inilah jaringan kekuatan Islam pesisir Jawa makin kuat menghadapi kolonialisme Eropa yang mulai masuk Nusantara.
“Kalau kita membaca sejarah dengan jernih, Sunan Gunung Jati dan Fatahillah bukan hanya bicara dakwah. Mereka bicara kedaulatan bangsa,” ujar RR Okki.
Cirebon yang Pecah
Tetapi sejarah tidak selalu berjalan indah.
Setelah masa Panembahan Ratu II/ Girilaya, konflik internal keluarga kerajaan mulai muncul.
Pengaruh Kesultanan Mataram yg ingin mengatur kebijakan Cirebon dan pengaruh Kesultanan Banten ikut memperumit situasi politik Cirebon.
Lalu pecahlah Kesultanan Cirebon pada 1678.
Menjadi dua:
Kesultanan Kasepuhan
dan
Kesultanan Kanoman.
Satu dipimpin Sultan Sepuh.
Satu lagi Sultan Anom.
Perpecahan itu lahir dari perebutan kekuasaan antar saudara yg ditengahi oleh Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.
Dan mungkin di situlah sejarah memberi pelajaran paling penting:
bahwa kerajaan besar sering runtuh bukan karena serangan musuh dari luar, tetapi karena konflik dari dalam.
Warisan yang Belum Selesai
Hari ini, ratusan tahun setelah wafatnya Sunan Gunung Jati, jutaan orang masih datang berziarah ke makamnya di Astana Gunung Jati.
Mereka datang bukan hanya untuk berdoa.
Tetapi mencari ketenangan.
Mencari akar sejarah.
Mencari makna.
Di tengah dunia modern yang gaduh, warisan Sunan Gunung Jati justru terasa makin relevan.
Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa akhlak akan melahirkan kerusakan.
Bahwa agama tidak boleh memutus manusia dari budayanya.
Bahwa perbedaan bisa direkat menjadi persatuan oleh pemahaman Adat dan Budaya.
Dan bahwa peradaban besar bisa dibangun bukan hanya dengan pedang, tetapi dengan keteladanan.
RR Okki menyebut, masyarakat Sunda hari ini perlu kembali membaca jejak Sunan Gunung Jati secara utuh.
“Beliau mengajarkan harmoni. Islam dan Sunda tidak dipertentangkan. Justru dipersatukan menjadi kekuatan peradaban,” katanya.
Mungkin itulah sebabnya nama Sunan Gunung Jati tidak pernah benar-benar pergi dari tanah Sunda.
Ia tetap hidup.
Dalam sejarah.
Dalam budaya.
Dan dalam harapan bahwa bangsa ini masih bisa dibangun dengan akhlak dan kebijaksanaan dalam balutan Ketauhidan dan Adat Budaya bangsanya




