BANDUNG — Hujan adalah rahmat Allah yang menentukan hidup manusia dan makhluk lain. Ketika kemarau panjang melanda dan air mulai mengering, Islam mengajarkan ikhtiar spiritual yang bukan sekadar berdoa. Rasulullah ﷺ mencontohkan Shalat Istisqa, shalat sunnah dua rakaat untuk memohon curahan hujan kepada Allah .
1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Shalat Istisqa dikerjakan pada siang hari, setelah matahari naik, mirip waktu Shalat Id. Rasulullah ﷺ keluar ke tanah lapang bersama jamaah, bukan di dalam masjid, agar lebih banyak orang bisa hadir . Sebelumnya, dianjurkan berpuasa tiga hari, memperbanyak istighfar, bertaubat, dan bersedekah .
2. Tata Cara Shalat
Shalat ini dikerjakan dua rakaat secara berjamaah, tanpa adzan dan iqamat. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, imam dan makmum bertakbir tujuh kali. Pada rakaat kedua, takbir lima kali. Bacaan surat dilakukan dengan suara jelas (jahr) .
Niatnya: “Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini mustaqbilal-qiblati imāman/ma’mūman lillāhi ta‘ālā.” Artinya: “Saya berniat Shalat Sunah Istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala” .
3. Khutbah dan Membalik Selendang
Setelah salam, imam menyampaikan khutbah yang berisi ajakan bertaubat dan memperbanyak istighfar. Saat berdoa, Nabi ﷺ menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, lalu membalikkan selendangnya: bagian kanan ke kiri dan kiri ke kanan . Ini simbol harapan agar keadaan berubah, dari kekeringan menuju kesuburan.
4. Doa yang Diajarkan Nabi ﷺ
Beberapa doa mustajab yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ:
Pertama, doa singkat yang diulang tiga kali:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Allahumma agitsna, Allahumma agitsna, Allahumma agitsna.
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” (HR. Bukhari)
Kedua, doa lengkap agar hujan membawa manfaat, bukan bencana:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Allahummasqina ghaitsan mughitsan marii’an marii’an nafi’an ghaira dharrin ‘ajilan ghaira ajil.
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, menyenangkan, menyuburkan, bermanfaat tanpa membahayakan, segera tanpa tertunda.” (HR. Abu Dawud)
Ketiga, doa yang menyentuh sisi kemanusiaan dan hewan:
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ
Allahummasqi ‘ibadaka wa baha’imaka wansyur rahmataka wa ahyi baladakal mayyit.
“Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu, hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati.” (HR. Abu Dawud)
5. Jika Hujan Justru Terlalu Deras
Islam juga mengajarkan doa saat hujan turun berlebihan dan berpotensi bencana:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا
Allahumma hawalaina wa la ‘alaina.
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat Istisqa bukan pengganti usaha nyata. Ia adalah ikhtiar batin yang berjalan seiring ikhtiar lahir: menjaga lingkungan, menghemat air, dan tidak membakar lahan. Nabi ﷺ mengajarkan kita memohon dengan rendah hati, bukan menuntut. Sebab hujan adalah rahmat, dan yang menurunkan hanyalah Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Kemenag RI, HR. Bukhari, HR. Muslim, HR. Abu Dawud.




