Tiga hari setelah longsor menghantam Kampung Condong, Desa Margaluyu, Arjasari, suasana di lokasi bencana masih dipenuhi kecemasan. Tanah yang terus bergeser membuat setiap langkah tim penyelamat seolah dilakukan di atas permukaan yang tidak pasti. Hingga Minggu (7/12), tiga warga masih hilang, sementara keluarga hanya bisa menunggu di tengah harapan yang kian menipis.
Ahdi (45), seorang warga setempat mengaku heran, alat berat sudah ada tidak segera dipakai. Dia mendengar sari oetugas bahwa kondisi tanah masih belum stabil.
” Tanahnya masih terus bergerak,” ucapnya.
Pola kontur berupa kebun dan sawah di lereng curam membuat lokasi tidak stabil. Satu pijakan yang salah bisa memicu longsoran baru.
Pencarian dibagi ke dua lokasi. Pertama, reruntuhan rumah Aisyah dan cucunya, Citra. Mereka diduga tertimbun saat mencoba menyelamatkan diri usai merasakan getaran tanah.
Kedua, tepian anak sungai — tempat Alfa dan Ramdan terakhir terlihat bermain.
Warga mengatakan Aisyah sempat keluar rumah membawa Citra setelah mendengar suara gemuruh. Namun longsoran datang lebih cepat.
Sementara itu, Alfa dan Ramdan bermain di dekat sungai saat material longsor menerjang. Ramdan selamat meski mengalami patah kaki dan kini dirawat di RS Welas Asih.
Hari Ketiga: Tanah Masih Bergerak, Cuaca Tak Bersahabat
Setiap jam, kondisi tanah berubah. Retakan baru muncul saat hujan mulai turun, memaksa tim menghentikan pencarian sementara.
“Jenis tanah di sini memang labil, sangat potensial longsor,” kata Dadang, relawan kebencanaan.
Karena itu, langkah tim selalu disertai perhitungan matang—lebih mengutamakan keselamatan tanpa menghentikan harapan.
Posko yang berada satu kilometer dari titik longsor kini dipenuhi relawan dari berbagai komunitas, termasuk pecinta alam. Mereka datang untuk memperkuat tim yang bekerja sejak hari pertama, nyaris tanpa istirahat.
Koordinasi dilakukan ketat per jam. Setiap perubahan cuaca bisa mengubah seluruh rencana pencarian.
“Hujan deras, kami harus mundur. Itu risiko terbesar,” jelas Dadang.





