Di tengah menguatnya tantangan ideologi, disrupsi global, dan erosi nilai kebangsaan, negara menegaskan kembali bahwa Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bukan sekadar simbol seremoni, melainkan instrumen strategis kaderisasi ideologi Pancasila.
Penegasan itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pembentukan Paskibraka Tahun 2026 yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (15/1/2026). Rakornas ini dihadiri para pemangku kepentingan pusat dan daerah, termasuk Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila.
Rakornas secara resmi dibuka Kepala BPIP Yudian Wahyudi sebagai tanda dimulainya proses pembentukan Paskibraka nasional menuju peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Plt Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan BPIP melaporkan, pada 2025 tercatat 132.194 pelajar mendaftar melalui aplikasi transparansi Paskibraka. Dari jumlah tersebut, hanya 76 peserta yang lolos ke tingkat nasional, mencerminkan ketatnya seleksi sekaligus tingginya standar ideologis yang diterapkan negara.
Yudian menegaskan, Paskibraka adalah proyek jangka panjang negara dalam menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya cakap secara fisik dan intelektual, tetapi juga kokoh secara ideologi.
“Yang kita bentuk bukan sekadar pasukan pengibar bendera. Kita sedang menyiapkan generasi penjaga kehormatan bangsa, yang tahan terhadap infiltrasi ideologi transnasional, radikalisme, dan pragmatisme kekuasaan,” tegas Yudian.
Menurutnya, melalui Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2022, BPIP diberikan mandat penuh untuk mengoordinasikan seluruh ekosistem Paskibraka, mulai dari rekrutmen, pembinaan, hingga penguatan peran Purna Paskibraka sebagai Duta Pancasila di tengah masyarakat.
Yudian menekankan, Paskibraka harus menjadi benteng ideologi negara, bukan sekadar kebanggaan seremoni tahunan.
Sementara itu, Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila menilai pembinaan Paskibraka semakin relevan di tengah realitas generasi muda yang hidup di era kebebasan digital tanpa batas.
“Anak muda hari ini cerdas, kritis, dan berani. Tapi tanpa fondasi ideologi dan adab, kecerdasan bisa kehilangan arah. Paskibraka harus menjadi ruang penanaman nilai Pancasila secara utuh,” ujarnya.
Fajar menegaskan, Paskibraka tidak boleh dilepaskan dari misi kebangsaan. Ia berharap semakin banyak putra-putri Sumedang yang tidak hanya lolos seleksi, tetapi juga tumbuh sebagai kader bangsa yang berani membela Pancasila dan NKRI.
Rakornas ini menegaskan satu pesan tegas: di tengah turbulensi politik dan ideologi global, negara tidak boleh lengah. Paskibraka diposisikan sebagai investasi ideologis strategis untuk memastikan masa depan Indonesia tetap berpijak pada Pancasila dan kehormatan bangsa tetap terjaga.




