Militer Ukraina melaporkan keberhasilan merebut kembali sekitar 201 kilometer persegi wilayah dari Rusia hanya dalam beberapa hari terakhir. Capaian ini disebut sebagai yang terbesar sejak pertengahan 2023.
Kemajuan tersebut terjadi di tengah dugaan melemahnya koordinasi pasukan Putin akibat langkah Elon Musk mencegah Rusia memanfaatkan sistem internet Starlink. Pembatasan akses internet satelit Starlink disebut-sebut berdampak pada efektivitas kendali pasukan di garis depan, terutama di wilayah timur Zaporizhzhia.
Namun di saat medan tempur menunjukkan dinamika baru, politik domestik Ukraina justru diguncang. Seorang mantan Menteri Energi ditangkap terkait dugaan pencucian uang melalui skema swap bernilai jutaan dolar. Penyelidikan lintas negara itu menjadi pukulan bagi pemerintah di Kiev yang tengah berjuang menjaga stabilitas dalam situasi perang.
Tekanan juga datang dari luar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Ukraina kembali ke meja perundingan dengan Rusia. Seruan tersebut mencuat menjelang rencana pertemuan trilateral di Jenewa, Swiss, yang dimediasi Washington.
Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan damai dinilai masih tipis. Perbedaan tuntutan mengenai wilayah pendudukan dan jaminan keamanan belum menemukan titik temu.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan potensi gelombang serangan udara besar dari Rusia yang menyasar infrastruktur energi nasional. Menurutnya, kombinasi drone dan rudal terus digunakan Moskow untuk melumpuhkan sistem kelistrikan.
Situasi kemanusiaan pun kian memburuk. Laporan organisasi pemantau konflik mencatat korban sipil akibat pemboman meningkat 26 persen sepanjang 2023, dengan ribuan warga tewas dan luka-luka.
Dengan konflik yang masih berkutat pada persoalan wilayah dan kepentingan strategis, perang antara Ukraina dan Rusia tampaknya masih jauh dari garis akhir. Di medan tempur ada pergerakan, namun di meja diplomasi belum terlihat jalan pulang.




