Edukasi

Siliwangi, Maung yang Tak Pernah Mati

×

Siliwangi, Maung yang Tak Pernah Mati

Sebarkan artikel ini
Prabu Siliwangi
Ilustrasi: Prabu Siliwangi

BANDUNG – Ada nama yang tidak pernah benar-benar mati dalam ingatan orang Sunda: Prabu Siliwangi.

Namanya tidak hanya hidup di prasasti. Tidak sekadar muncul dalam naskah kuno. Ia hidup di obrolan warung kopi, di cerita para karuhun, di lereng Gunung Salak, di kujang yang tergantung di dinding rumah, bahkan di keyakinan diam-diam sebagian urang Sunda tentang sosok pemimpin ideal.

Siliwangi bukan sekadar raja. Ia telah menjelma menjadi simbol.

Simbol tentang kejayaan. Tentang wibawa. Tentang pemimpin yang dianggap mampu mempersatukan tanah Sunda ketika dunia Nusantara sedang bergerak menuju perubahan besar.

Di titik itulah, Sri Baduga Maharaja — nama resminya dalam sejarah — menjadi penting untuk dipahami kembali, bukan sebagai mitos kosong, tetapi sebagai fakta sejarah yang memberi pelajaran bagi masa kini.

Prabu Siliwangi yang dikenal luas sebagai Sri Baduga Maharaja memerintah Kerajaan Sunda Pajajaran pada 1482-1521 Masehi. Sejumlah sumber sejarah, termasuk Prasasti Batutulis Bogor dan naskah Carita Parahyangan, menyebut masa pemerintahannya sebagai periode paling stabil dan makmur dalam sejarah Pajajaran.

Ia lahir dengan nama Raden Pamanah Rasa. Putra Prabu Dewa Niskala dari Galuh. Dalam perjalanan politiknya, ia berhasil menyatukan kembali dua kekuatan besar warisan Tarumanagara: Sunda dan Galuh.

Itu bukan perkara kecil.

Sebab sejak Tarusbawa dan Wretikandayun membagi kekuasaan pada abad ke-7, tanah Sunda praktis hidup dalam dua poros politik berbeda selama ratusan tahun.

Sri Baduga mengakhiri fragmentasi itu.

Ia memindahkan pusat pemerintahan ke Pakuan Pajajaran. Membangun pusat kerajaan yang kuat. Menata sistem pertahanan. Membuat telaga, parit pertahanan, hingga kawasan hutan lindung yang diyakini menjadi cikal bakal Kebun Raya Bogor hari ini.

Dalam bahasa modern, Sri Baduga bukan hanya raja simbolik. Ia administrator negara.

Akademisi dan tokoh budaya Jawa Barat, RR Okki Jusuf Judanagara, menyebut Sri Baduga sebagai figur yang berhasil meletakkan identitas politik dan kebudayaan Sunda secara utuh.

“Prabu Siliwangi bukan sekadar tokoh legenda. Ia adalah penanda lahirnya kesadaran kolektif urang Sunda tentang persatuan, martabat, dan peradaban,” ujar RR Okki Jusuf Judanagara.

Menariknya, semakin besar fakta sejarah tentang dirinya, semakin besar pula mitos yang tumbuh mengelilinginya.

Di titik ini, sejarah dan kebudayaan Sunda bertemu.

Siliwangi dipercaya memiliki harimau putih. Disebut sakti mandraguna. Dikisahkan moksa di Gunung Salak. Bahkan hingga hari ini, nama “Maung Siliwangi” tetap menjadi simbol kekuatan spiritual dan keberanian orang Sunda.

Modernitas ternyata gagal menghapus itu.

Mengapa?

Karena masyarakat selalu membutuhkan simbol.

Dan simbol terbesar orang Sunda tampaknya tetap bernama Siliwangi.

Tetapi ada hal lebih penting daripada sekadar romantisme masa lalu: mengapa figur ini terus relevan?

Jawabannya mungkin karena orang Sunda hari ini sedang mengalami kegelisahan identitas.

Secara jumlah besar. Secara budaya kuat. Tetapi dalam banyak momentum politik nasional, urang Sunda sering merasa seperti penonton di rumah sendiri.

Padahal tanah Sunda melahirkan banyak pemikir, ulama, seniman, tentara, pejuang, hingga teknokrat penting republik ini.

Di tengah kegelisahan itulah nama Siliwangi kembali dipanggil.

Bukan untuk membangkitkan feodalisme lama. Tetapi untuk mengingatkan bahwa orang Sunda pernah memiliki peradaban besar yang dihormati Nusantara.

RR Okki Jusuf Judanagara menilai warisan terbesar Siliwangi justru bukan kesaktiannya, melainkan nilai kepemimpinannya.

“Ajaran silih asih, silih asah, silih asuh yang dilekatkan pada Prabu Siliwangi sesungguhnya adalah filosofi sosial Sunda yang sangat modern. Ada kasih sayang, pendidikan, dan tanggung jawab sosial di dalamnya,” katanya.

Dan mungkin di situlah inti terpentingnya.

Bahwa kekuatan Sunda sejatinya bukan pada amarah. Bukan pada mitos. Bukan pula pada nostalgia masa kerajaan.

Tetapi pada karakter sosialnya.

Ramah. Santun. Guyub. Tetapi tetap memiliki harga diri.

Siliwangi lalu menjadi cermin. Bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak lahir hanya dari kekuatan militer atau kekayaan alam, melainkan dari kemampuan menjaga identitas dan martabat kebudayaannya.

Karena bangsa yang kehilangan ingatan sejarahnya biasanya akan mudah kehilangan arah masa depannya.

Dan orang Sunda tampaknya memahami itu.

Maka nama Siliwangi tetap hidup. Bahkan setelah lebih dari lima abad berlalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *