LENS – Kemenangan spektakuler 9-1 Como 1907 atas RC Lens di Stadion Bollaert-Delelis menjadi demonstrasi kekuatan yang akan dikenang dalam sejarah Liga Champions UEFA 2026/2027. Datang sebagai tim debutan yang sempat dipandang sebelah mata, anak asuh Cesc Fabregas tampil bak raksasa lapar yang menghancurkan tuan rumah di hadapan pendukung sendiri.
Sejak peluit pertama dibunyikan, I Lariani menyajikan simfoni menyerang yang mematikan dan presisi. Orkestrasi lini depan Como dipimpin Anastasios Douvikas yang tampil luar biasa dengan torehan hattrick klinis. Dominasi mutlak terlihat sejak babak pertama ketika mereka memberondong gawang Lens tiga gol tanpa balas melalui dwigol Douvikas dan aksi gemilang Nico Paz.
Memasuki paruh kedua, Como justru semakin menggila dengan menambah enam gol tambahan. Gol-gol tersebut dilesakkan oleh Lucas Da Cunha, Marc-Oliver Kempf, Martin Baturina, gol indah Mattia Liberali, serta pesta yang ditutup manis oleh Matteo Papaccioli di masa injury time. Tuan rumah benar-benar tak berdaya dan hanya bisa membalas satu gol hiburan via Ruben Aguilar.
Como 1907 vs RC Lens ini menorehkan tinta emas yang membuat nama Como bergaung kencang di seluruh dunia. Berdasarkan catatan sejarah kompetisi, kemenangan masif ini menyamai rekor Liga Champions UEFA untuk margin kemenangan terbesar di era modern dengan selisih delapan gol.
Rekor tersebut bersanding dengan klub legendaris seperti Liverpool yang menang 8-0 atas Besiktas, dan Real Madrid yang menang 8-0 atas Malmo. Lebih fantastis lagi, Como menyejajarkan diri dengan Feyenoord (1971) sebagai satu-satunya tim yang mampu mencetak sembilan gol dalam satu laga tandang.
Malam magis di Lens ini menjadi pembuktian sahih bahwa Como tidak hanya sekadar numpang lewat. Klub yang dibangun dengan investasi pengusaha Indonesia ini kini melesat gagah ke posisi empat besar klasemen dengan koleksi sembilan poin, menjadi kekuatan baru Eropa yang siap meruntuhkan dominasi klub tradisional.




