Internasional

Hormuz dalam Genggaman Iran, Sia-sia Trump Ajak Koalisi ke Teluk

×

Hormuz dalam Genggaman Iran, Sia-sia Trump Ajak Koalisi ke Teluk

Sebarkan artikel ini
Selat Hormuz
Selat Hormuz

DOHA— Tekanan Presiden Donald Trump terhadap sekutu Barat mulai memicu tanda tanya besar: apakah NATO akan tunduk, atau justru menghadapi realitas militer yang jauh lebih kompleks di lapangan?

Pengamat dari Doha Institute for Graduate Studies, Mohammed Elmasry, menilai tekanan politik Trump memang terasa, namun efektivitasnya dalam konteks konflik sangat diragukan—terutama terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz.

Menurutnya, Iran memiliki keunggulan taktis yang sulit ditandingi dalam jangka pendek.

“Iran bisa dengan mudah mengganggu Hormuz. Mereka punya ribuan drone, kapal cepat tanpa awak, hingga rudal yang bisa menyerang dari berbagai titik,” ujarnya saat diwawancara jurnalis Al Jazeera.

Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa jalur distribusi energi paling vital di dunia itu justru menjadi titik lemah Barat dalam konflik.

Bahkan, mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak disebut telah mengakui bahwa secara militer hampir mustahil membuka Hormuz dengan kekuatan dalam waktu singkat.

Situasi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara tekanan politik dan realitas militer di lapangan.

Di sisi lain, retorika Trump dinilai semakin tidak stabil. Media Israel pun mulai bersikap kritis, menyebut pendekatan Trump “erratic” dan cenderung emosional di tengah eskalasi konflik.

Elmasry melihat ultimatum 48 jam yang sempat dilontarkan Trump lebih sebagai strategi “coercive diplomacy”—tekanan untuk memaksa negosiasi, bukan rencana militer yang matang.

Namun risiko tetap tinggi.

Jika serangan benar-benar dilakukan, Iran hampir pasti akan membalas. Pola “tit-for-tat” atau saling serang yang sudah berlangsung selama lebih dari tiga pekan menunjukkan bahwa Teheran konsisten mengeksekusi ancamannya.

Target balasan pun tidak terbatas pada Israel dan Amerika Serikat, tetapi juga bisa meluas ke infrastruktur energi negara-negara Teluk.

Hal ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam posisi rawan eskalasi tak terkendali.

Sementara itu, dinamika di kawasan Teluk menunjukkan fragmentasi sikap. Uni Emirat Arab dinilai paling mungkin merapat ke poros AS-Israel, mengingat rekam jejak normalisasi hubungan.

Namun Arab Saudi dan Qatar diperkirakan akan tetap berhitung.
Keduanya dinilai menyadari risiko politik dan sosial jika terlibat langsung dalam perang melawan negara Muslim seperti Iran, di tengah sensitivitas publik domestik.

Dalam konteks ini, opsi paling rasional bagi negara Teluk bukanlah keterlibatan militer, melainkan tekanan ekonomi dan diplomasi terhadap Washington.

Dengan komitmen investasi besar ke AS, negara-negara Teluk sebenarnya memiliki leverage untuk mempengaruhi arah kebijakan Trump.
Namun satu hal yang pasti: konflik ini telah memasuki fase yang sulit diprediksi.

Dengan kombinasi tekanan politik, kemampuan militer asimetris Iran, serta kepentingan geopolitik yang saling bertabrakan, Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur energi—melainkan titik krusial yang bisa menentukan arah perang dan stabilitas global. (Sumber : Al Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *