ABU DHABI – Pemerintah Uni Emirat Arab mengungkap serangan drone yang menghantam generator di perimeter Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah Nuclear Power Plant di wilayah barat negara itu.
Serangan tersebut memicu kekhawatiran baru di kawasan Teluk di tengah rapuhnya gencatan senjata konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
PLTN Barakah merupakan fasilitas vital bagi UEA karena empat reaktornya memasok sekitar seperempat kebutuhan listrik nasional negara tersebut.
Pemerintah UEA menyebut tiga drone melintas dari perbatasan barat. Dua di antaranya berhasil ditembak jatuh, sementara satu drone lainnya mampu menembus pertahanan dan menghantam area generator fasilitas nuklir.
Meski demikian, otoritas UEA memastikan tidak ditemukan kebocoran radiasi dari fasilitas tersebut. Investigasi masih dilakukan bersama International Atomic Energy Agency untuk mengungkap pelaku serangan.
Hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab. Namun, UEA menyoroti meningkatnya aktivitas serangan drone yang selama ini kerap dikaitkan dengan Iran maupun kelompok milisi Syiah pro-Teheran di Irak.
Ketegangan regional juga meningkat setelah Selat Hormuz masih berada dalam situasi sensitif menyusul pengerahan armada militer AS di kawasan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, UEA sempat menuding Iran melancarkan serangan drone dan rudal seiring eskalasi konflik yang belum benar-benar mereda.
Situasi semakin rumit karena UEA diketahui menjadi tuan rumah sistem pertahanan udara dan personel Israel yang bergabung bersama AS dalam operasi militer sebelumnya di kawasan.
Sementara itu, Donald Trump memberi sinyal bahwa operasi militer AS bisa kembali dilanjutkan jika situasi memburuk. Trump juga dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel terkait perkembangan terbaru konflik kawasan.
Di sisi lain, media pemerintah Iran mulai menayangkan siaran bernuansa mobilisasi perang, memperlihatkan warga memegang senapan dan menyatakan kesiapan membela negara jika konflik kembali pecah.
Serangan terhadap fasilitas strategis UEA ini dinilai berpotensi menyeret Abu Dhabi lebih jauh ke dalam pusaran konflik regional yang semakin tidak menentu. (Sumber : Associated Press)






