Edukasi

Ki Sunda Merasa Asing di Tanah Leluhurnya

×

Ki Sunda Merasa Asing di Tanah Leluhurnya

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Masda Jabar
Ketua Umum MASDA Jabar Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan

BANDUNG — Suara itu terdengar lirih. Tapi mengandung kegelisahan panjang. Tentang budaya Sunda yang dinilai makin terdesak di tanah kelahirannya sendiri.

Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Anton Charliyan atau yang akrab disapa Abah Anton, melontarkan kritik keras terhadap fenomena sosial yang menurutnya membuat masyarakat Sunda perlahan kehilangan keberanian menjaga identitas budayanya sendiri.

Melalui tulisan reflektif bersama Koordinator Bandung Ngariung, Kang Martin B Chandra, Abah Anton mempertanyakan posisi budaya Sunda di tengah derasnya pengaruh budaya luar dan menguatnya sikap fanatisme sempit sebagian kelompok masyarakat.

“Ki Sunda ayeuna siga jadi tuan asing di imahna sorangan,” tulis Abah Anton dalam pernyataannya, Senin (11/5/2026).

Tulisan tersebut lahir dari kegelisahan atas polemik yang muncul setiap kali tradisi, simbol, maupun budaya Sunda ditampilkan di ruang publik. Menurutnya, penghormatan terhadap warisan leluhur justru sering dicurigai, dipersoalkan, bahkan dianggap bertentangan dengan nilai tertentu.

Abah Anton menilai kondisi itu bertolak belakang dengan sikap leluhur Sunda masa lalu yang sangat terbuka menerima budaya pendatang.

Ia menggambarkan bagaimana masyarakat Sunda dahulu menerima tamu asing beserta budaya dan keyakinannya tanpa rasa curiga. Namun ironisnya, saat budaya luar berkembang besar di tanah Sunda, justru sebagian pihak mulai memandang rendah budaya asli Sunda sendiri.

Dalam analoginya, Abah Anton menyebut budaya Sunda ibarat musik gamelan yang dulu menyambut hangat musik rebana hingga rock and roll yang dibawa pendatang.

“Tapi sekarang gamelan malah dianggap nada sumbang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti fenomena sebagian masyarakat Sunda yang mulai merasa canggung menggunakan atribut budaya sendiri, termasuk pakaian adat pangsi hitam yang disebutnya kini sering diberi stigma negatif.

“Make pangsi hideung ayeuna siga era, malah bisa dicap dukun,” katanya.

Abah Anton mengaku prihatin karena setiap upaya pelestarian budaya Sunda kini kerap dibenturkan dengan isu agama, bahkan dituduh meresahkan.

Padahal menurutnya, budaya dan agama semestinya dapat berjalan berdampingan tanpa saling menegasikan.

Dalam tulisannya, ia mengutip Amanat Galunggung — pesan leluhur Sunda — yang mengingatkan generasi penerus agar menjaga kabuyutan atau warisan leluhur agar tidak direbut pihak asing.

“Ulah tepi ka direbut ku asing,” tulisnya.

Bagi Abah Anton, pesan itu bukan semata soal wilayah fisik, melainkan juga identitas budaya dan jati diri masyarakat Sunda.

Tulisan tersebut memantik perhatian luas di kalangan pegiat budaya Jawa Barat. Sebagian menilai kegelisahan itu mencerminkan keresahan masyarakat adat yang merasa ruang budaya lokal makin menyempit di tengah perubahan sosial dan arus globalisasi.

Namun di sisi lain, muncul pula pandangan bahwa pelestarian budaya harus tetap dibangun dengan semangat keterbukaan, dialog, dan saling menghormati antar kelompok masyarakat.

Abah Anton menegaskan dirinya tidak sedang mengajak masyarakat membenci budaya lain. Ia hanya ingin budaya Sunda mendapat tempat terhormat di tanahnya sendiri.

“Hayu urang silih hormat, silih asih, silih asah, silih asuh,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *