Edukasi

‎Kritik Keras Budayawan Karawang: Rute Kirab Mahkota Pajajaran “Ngaco”, Hilang Makna Sejarah ‎

×

‎Kritik Keras Budayawan Karawang: Rute Kirab Mahkota Pajajaran “Ngaco”, Hilang Makna Sejarah ‎

Sebarkan artikel ini
Budayawan Karawang, Nace Permana
Budayawan Karawang, Nace Permana

KARAWANG – Penentuan titik awal (start) kirab budaya Mahkota Binokasih di Kabupaten Karawang menuai kritik tajam dari budayawan. Pasalnya, pemilihan Kampus Horizon yang berlokasi di Jalan Tanjungpura sebagai titik keberangkatan dinilai tidak memiliki kaitan historis dengan jejak rekam Prabu Siliwangi (Eyang Prabu), sosok yang menjadi sentral dalam kirab tersebut.

‎​Salah saeorang budayawan Karawang, Nace Permana menyayangkan keputusan panitia yang memilih lokasi tersebut dibandingkan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti Masjid Agung Karawang.

‎​Menurutnya, kirab yang membawa replika mahkota kebanggaan Pajajaran seharusnya menjadi momen untuk menapak tilas sejarah. Pemilihan Masjid Agung Karawang dianggap jauh lebih relevan karena merupakan saksi bisu pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang yang dipimpin oleh Syekh Qurotul Ain.

‎​”Sangat disayangkan kenapa tidak di Masjid Agung Karawang. Padahal di sana ada sejarah luar biasa saat Eyang Prabu dinikahkan oleh Syekh Quro. Dari sana lahir keturunan seperti Walangsungsang, Rara Santang, hingga Sunan Gunung Jati,” ujarnya saat ditemui disela-sela aktifitasnya,Rabu(6/05/2026) .

‎​Ia bahkan menyebut pemilihan rute dari Kampus Horizon menuju kantor Pemda Karawang sebagai langkah yang “ngaco” jika tujuannya adalah melestarikan nilai-nilai luhur sejarah.

‎​”Sampai ada sentilan dari teman-teman komunitas, ‘apa Eyang Prabu dulu pernah sekolah kebidanan atau bagaimana?’ Itu kritikan karena titik start-nya tidak nyambung dengan sejarah,” tambahnya dengan nada kecewa.

‎​Nace juga memberikan catatan khusus kepada Dedi Mulyadi (KDM) yang dikenal sebagai penggagas sekaligus tokoh utama dalam rangkaian kirab budaya di Jawa Barat ini. Ia meminta agar penyelenggara tidak tanggung-tanggung dalam mengupas sejarah agar makna kegiatan tersebut sampai ke masyarakat.

‎​”Kalau benar ingin mengagungkan nilai sejarah yang dibangun Eyang Prabu, minimal ikuti catatan sejarah yang ada. Jangan asal ‘pruk’ (sembarangan),” tegasnya.

‎Sementara,terkait keterlibatan budayawan lokal, ia mengaku tidak ada konsultasi yang mendalam dari pihak panitia pusat. Sebelumnya, perwakilan komunitas pemelihara makam Syekh Quro dikabarkan sudah mencoba berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Karawang melalui Kabid Kebudayaan, namun respons yang diterima dinilai datar dan tidak mengakomodasi keinginan masyarakat.

‎​Rencana awal yang sempat muncul untuk memulai kirab dari Makam Syekh Quro di Pulo Kalapa, Wadas, pun akhirnya bergeser ke lokasi kampus tersebut, yang memicu polemik di kalangan pegiat budaya Karawang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *