Edukasi

“Melukis Itu Happy”, Puluhan Karya Anak Ramaikan Pameran Seni di GCC Kota Tasikmalaya

×

“Melukis Itu Happy”, Puluhan Karya Anak Ramaikan Pameran Seni di GCC Kota Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini
Diky Candra
Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra

TASIKMALAYA – Sebanyak 64 karya lukis hasil kreativitas 40 peserta dipamerkan di Gedung Creative Center (GCC) Kota Tasikmalaya dalam kegiatan Bulan Menggambar bertajuk “Melukis Itu Happy” bersama Sanggar Brahmastra Art, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak 9 hingga 11 Mei 2026 tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang apresiasi bagi anak-anak pecinta seni lukis di Kota Tasikmalaya.

Beragam karya dengan karakter, warna, dan gaya unik dipajang untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, yang meninjau langsung pameran itu menilai pendidikan seni memiliki peran penting dalam membangun kepekaan rasa sejak usia dini.

Menurutnya, seni bukan hanya melahirkan kreativitas, tetapi juga membentuk empati dan sensitivitas sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan maupun berbagai profesi.

“Kalau pejabat saja tidak punya rasa, nanti yang diurus hanya kepentingan pribadi. Seni melatih sensitivitas positif,” ujar Diky Candra kepada wartawan.

Ia juga mengapresiasi konsistensi para pegiat seni di Tasikmalaya, termasuk Hj. Rukmini Yusuf Affandi, yang terus mendampingi perkembangan sanggar-sanggar seni lukis di daerah.

“Ini adalah pelatihan rasa yang luar biasa bagi anak-anak di Kota Tasikmalaya,” katanya.

Sementara itu, pimpinan Sanggar Brahmastra Art, Herman PG, mengatakan pameran karya anak rutin digelar setiap tahun, bahkan dapat berlangsung dua kali dalam setahun.

Menurutnya, momentum Bulan Menggambar Nasional dimanfaatkan untuk memperkenalkan hasil karya anak-anak kepada masyarakat karena jumlah karya yang dihasilkan terus bertambah dan dinilai layak dipamerkan.

“Karena Mei merupakan Bulan Menggambar Nasional, kami manfaatkan momentum ini untuk menggelar pameran karya anak-anak. Kebetulan karya mereka juga sudah banyak dan layak dikenalkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya menghadirkan pameran lukisan, kegiatan tersebut juga diisi lomba mewarnai bagi anak usia dini. Konsep acara dibuat santai dan bebas agar anak-anak dapat menikmati proses berkarya tanpa tekanan aturan yang terlalu kaku.

“Mereka diberi kebebasan hingga tiga jam. Mau ditambah apa saja silakan, yang penting happy saat menggambar,” kata Herman.

Menariknya, Sanggar Brahmastra Art turut menggandeng pelaku UMKM anyaman caping sebagai media kanvas kreatif yang dilukis langsung oleh anak-anak.

Langkah itu tidak hanya menghasilkan karya seni unik, tetapi juga menjadi upaya mendukung para perajin lokal agar produk anyaman mereka tetap memiliki nilai jual di tengah persaingan produk pabrikan.

“Kami ingin hasil anyaman para pengrajin bisa terbeli, lalu anak-anak berkreasi di atasnya. Rencananya karya-karya itu juga akan dipamerkan kembali pada Juli mendatang dan mudah-mudahan bisa terjual,” terang Herman.

Di sisi lain, Hj. Rukmini Yusuf Affandi menegaskan bahwa seni tidak dapat diukur hanya dari bagus atau tidaknya sebuah karya. Menurutnya, setiap anak memiliki karakter dan gaya masing-masing dalam berekspresi.

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak dan orang tuanya. Ketika karya mereka dipamerkan, anak-anak merasa dihargai atas proses kreatif yang sudah mereka jalani,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat semakin terbuka dalam mengapresiasi dunia seni. Sebab, seni bukan hanya milik seniman atau galeri elit, melainkan milik semua orang dengan cara dan ciri khas masing-masing.

“Seni itu relatif. Setiap anak punya cara dan ciri khas sendiri dalam berkarya,” tuturnya.

Rukmini juga mengungkapkan, sejumlah anak binaan Sanggar Brahmastra Art bahkan pernah mengikuti pameran hingga ke luar kota maupun luar negeri. Hal itu menjadi bukti bahwa kreativitas anak-anak Tasikmalaya layak diperhitungkan di tingkat yang lebih luas.

“Dunia seni bukan hanya milik para pelukis, tetapi milik semua orang,” pungkasnya.

Foto: Sebanyak 64 karya lukis hasil kreativitas 40 peserta dipamerkan di Gedung Creative Center (GCC) Kota Tasikmalaya dalam kegiatan Bulan Menggambar “Melukis Itu Happy”. (Istimewa).

– Sebanyak 64 karya lukis hasil kreativitas 40 peserta dipamerkan di Gedung Creative Center (GCC) Kota Tasikmalaya dalam kegiatan Bulan Menggambar bertajuk “Melukis Itu Happy” bersama Sanggar Brahmastra Art, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak 9 hingga 11 Mei 2026 tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang apresiasi bagi anak-anak pecinta seni lukis di Kota Tasikmalaya.

Beragam karya dengan karakter, warna, dan gaya unik dipajang untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, yang meninjau langsung pameran itu menilai pendidikan seni memiliki peran penting dalam membangun kepekaan rasa sejak usia dini.

Menurutnya, seni bukan hanya melahirkan kreativitas, tetapi juga membentuk empati dan sensitivitas sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan maupun berbagai profesi.

“Kalau pejabat saja tidak punya rasa, nanti yang diurus hanya kepentingan pribadi. Seni melatih sensitivitas positif,” ujar Diky Candra kepada wartawan.

Ia juga mengapresiasi konsistensi para pegiat seni di Tasikmalaya, termasuk Hj. Rukmini Yusuf Affandi, yang terus mendampingi perkembangan sanggar-sanggar seni lukis di daerah.

“Ini adalah pelatihan rasa yang luar biasa bagi anak-anak di Kota Tasikmalaya,” katanya.

Sementara itu, pimpinan Sanggar Brahmastra Art, Herman PG, mengatakan pameran karya anak rutin digelar setiap tahun, bahkan dapat berlangsung dua kali dalam setahun.

Menurutnya, momentum Bulan Menggambar Nasional dimanfaatkan untuk memperkenalkan hasil karya anak-anak kepada masyarakat karena jumlah karya yang dihasilkan terus bertambah dan dinilai layak dipamerkan.

“Karena Mei merupakan Bulan Menggambar Nasional, kami manfaatkan momentum ini untuk menggelar pameran karya anak-anak. Kebetulan karya mereka juga sudah banyak dan layak dikenalkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya menghadirkan pameran lukisan, kegiatan tersebut juga diisi lomba mewarnai bagi anak usia dini. Konsep acara dibuat santai dan bebas agar anak-anak dapat menikmati proses berkarya tanpa tekanan aturan yang terlalu kaku.

“Mereka diberi kebebasan hingga tiga jam. Mau ditambah apa saja silakan, yang penting happy saat menggambar,” kata Herman.

Menariknya, Sanggar Brahmastra Art turut menggandeng pelaku UMKM anyaman caping sebagai media kanvas kreatif yang dilukis langsung oleh anak-anak.

Langkah itu tidak hanya menghasilkan karya seni unik, tetapi juga menjadi upaya mendukung para perajin lokal agar produk anyaman mereka tetap memiliki nilai jual di tengah persaingan produk pabrikan.

“Kami ingin hasil anyaman para pengrajin bisa terbeli, lalu anak-anak berkreasi di atasnya. Rencananya karya-karya itu juga akan dipamerkan kembali pada Juli mendatang dan mudah-mudahan bisa terjual,” terang Herman.

Di sisi lain, Hj. Rukmini Yusuf Affandi menegaskan bahwa seni tidak dapat diukur hanya dari bagus atau tidaknya sebuah karya. Menurutnya, setiap anak memiliki karakter dan gaya masing-masing dalam berekspresi.

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak dan orang tuanya. Ketika karya mereka dipamerkan, anak-anak merasa dihargai atas proses kreatif yang sudah mereka jalani,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat semakin terbuka dalam mengapresiasi dunia seni. Sebab, seni bukan hanya milik seniman atau galeri elit, melainkan milik semua orang dengan cara dan ciri khas masing-masing.

“Seni itu relatif. Setiap anak punya cara dan ciri khas sendiri dalam berkarya,” tuturnya.

Rukmini juga mengungkapkan, sejumlah anak binaan Sanggar Brahmastra Art bahkan pernah mengikuti pameran hingga ke luar kota maupun luar negeri. Hal itu menjadi bukti bahwa kreativitas anak-anak Tasikmalaya layak diperhitungkan di tingkat yang lebih luas.

“Dunia seni bukan hanya milik para pelukis, tetapi milik semua orang,” pungkasnya.

Foto: Sebanyak 64 karya lukis hasil kreativitas 40 peserta dipamerkan di Gedung Creative Center (GCC) Kota Tasikmalaya dalam kegiatan Bulan Menggambar “Melukis Itu Happy”. (Istimewa).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *