Daerah

Kampung Naga Menunggu Uluran Tangan, Tanpa Pernah Meminta

28
×

Kampung Naga Menunggu Uluran Tangan, Tanpa Pernah Meminta

Sebarkan artikel ini
Abah Anton
Abah Anton Bersama tokoh Kampung Naga

TASIKMALAYA — Siang itu sederhana. Kopi pahit. Pisang goreng. Obrolan mengalir pelan, tapi isinya berat.

Di Kampung Naga, Salawu, Abah Anton Charliyan duduk bersama para tokoh adat. Tanpa forum resmi. Tanpa protokoler.

Yang muncul justru kejujuran. Curhat panjang. Tentang kampung yang mulai letih.

Kampung itu berada di tepi sungai. Dulu bersahabat. Sekarang mulai mengancam.

Sungai mengalami pendangkalan. Dari tahun ke tahun. Tak pernah benar-benar ditangani tuntas.

Jika hujan deras datang, air meluap. Banjir kiriman tak terhindarkan.

Tahun 2017 jadi ingatan pahit. Air datang besar. Merusak sawah. Menggerus tanah. Menyentuh kampung adat.

“Kalau tidak dikeruk, ini akan terus berulang,” kata salah satu tokoh adat.

Solusinya sederhana. Tapi tak pernah selesai. Sungai perlu diperdalam. Bantaran perlu ditinggikan.

Sekitar satu kilometer panjangnya. Cukup ditambah setengah meter saja. Air bisa ditahan.

Tanggul juga perlu diperpanjang. Agar aliran tak menghantam kampung.

Dan satu lagi: pohon. Harus kembali banyak. Di bantaran sungai. Di leuweung.

Karena tanpa itu, tanah terus melemah. Air makin liar.

Masalah belum selesai di sana. Irigasi sawah ikut rusak. Menyempit.

Air yang harusnya memberi hidup, justru membawa masalah.

Rumah-rumah adat juga mulai “lelah”.

Atap ijuk bocor di sana-sini. Harga ijuk sekarang mahal. Tak terjangkau.

Kayu-kayu mulai lapuk. Diam-diam menua.

Leuit, pacilingan, mushola, saung lisung—semua butuh sentuhan. Bukan sekadar tambal sulam.

Tapi perbaikan serius.

Menariknya, mereka tidak mengeluh dengan cara biasa.

Tidak ada proposal. Tidak ada permintaan resmi.

Bagi masyarakat Kampung Naga, meminta adalah pantangan.

Mereka memilih diam. Menunggu.

“Kalau ada yang memberi dengan tulus, kami terima,” ujar Abah Tajudin.

Kalimat sederhana. Tapi dalam.

Mereka juga berpikir ke depan. Tidak ingin terus bergantung.

Mereka ingin menanam. Tanaman bernilai tinggi.

Kopi. Pala. Kelapa kopyor. Markisa. Nanas madu. Bahkan gaharu.

Mereka juga ingin mencoba metode baru. Polybag. Green house.

Modern, tapi tetap menjaga adat.

Masalahnya klasik: lahan sempit.

Hanya 11 hektare. Untuk satu komunitas adat.

Hasil panen terbatas. Leuit tak lagi penuh.

Ketahanan pangan jadi rapuh.

Anak-anak muda punya mimpi lain.

Peternakan. Perikanan. Ayam petelur. Domba Garut. Gurame. Nila.

Semangat ada. Tenaga ada.

Yang tidak ada: modal dan pasar.

Harga sering ditentukan tengkulak. Petani dan peternak hanya ikut arus.

Mereka juga punya mimpi kecil. Tapi penting.

Jalan setapak yang tidak licin. Tidak becek.

Kampung yang tetap asri. Tapi lebih tertata.

Percakapan siang itu berakhir seperti awalnya. Sederhana.

Tanpa kesimpulan. Tanpa janji.

Hanya harapan yang dititipkan.

Melalui Abah Anton dan tim MASDA Jabar.

Agar sampai ke Gedung Sate.

Agar didengar para pengambil keputusan.

Kampung Naga tidak meminta.

Tapi jelas, mereka sedang menunggu.