Daerah

Abah Anton Charliyan Raih Penghargaan Sriraksa Kalpa Budaya Nusantara

×

Abah Anton Charliyan Raih Penghargaan Sriraksa Kalpa Budaya Nusantara

Sebarkan artikel ini
Anton Charliyan
Abah Anton Charliyan di anugreahi Penghargaan Kehormatan SRIRAKSA KALPA BUDAYA - PELESTARI BUDAYA NUSANTARA di Tatar Sunda dari MADUKARA ( Majlis Adat Budaya Keraton Nusantara )

Penghormatan Tinggi bagi Tokoh Pelestari Budaya Sunda

Tokoh budaya Sunda sekaligus mantan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.Kn, yang akrab disapa Abah Anton Charliyan, menerima Penghargaan Kehormatan Sriraksa Kalpa Budaya – Pelestari Budaya Nusantara. Penghargaan ini diberikan oleh MADUKARA (Majelis Adat Budaya Keraton Nusantara) dalam rangka Gelar Budaya Segoro Gunung ke-IX, yang digelar di Balai Agung Keraton Amarta Bumi, Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Penghargaan kehormatan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum MADUKARA, SA Prabu Punto Djoyonegoro, didampingi Sultan Indra Usman Kesultanan Indrapura (Sumatera Barat) dan Raja Anak Agung Ngurah Putra Darma, Penglingsir Puri Bali.

Bukan Penghargaan Instan, Tapi Atas Jejak Panjang Budaya

MADUKARA menegaskan, anugerah ini bukan diberikan secara seremonial atau karena jabatan. Abah Anton dinilai layak menerima penghargaan karena rekam jejak panjang dan konsisten dalam pelestarian sejarah, seni, dan budaya Sunda, bahkan sejak masih aktif sebagai perwira Polri.

Sejak menjabat Kapolwil Priangan (2008) hingga Kapolda Jawa Barat (2016–2017), Abah Anton dikenal aktif menginisiasi dan mengawal berbagai program budaya Sunda. Kepeduliannya tidak berhenti setelah purna tugas, tetapi terus berlanjut melalui kegiatan kebudayaan, penelitian situs sejarah, hingga penulisan buku.

Karya Nyata Pelestarian Budaya

Sejumlah karya monumental Abah Anton di antaranya pendirian Tugu Kujang Pusaka setinggi 15 meter di Kampung Adat Naga, pembangunan Gong Perdamaian Dunia di Karang Kamulyan Ciamis, serta pengamanan dan revitalisasi berbagai situs sejarah budaya Sunda di Jawa Barat.

Ia juga berperan besar dalam pelestarian Aksara Sunda Kaganga, termasuk menyusun pedoman penulisan aksara bersama akademisi Universitas Padjadjaran serta mengadakan pelatihan bagi guru SD dan SLTP. Selain itu, Abah Anton aktif membina kampung adat, mendirikan museum sejarah, hingga rutin memberikan Penghargaan Budaya kepada tokoh Sunda setiap 17 Agustus.

Tanggapan Abah Anton dan MADUKARA

Menanggapi penghargaan tersebut, Abah Anton menyampaikan rasa terima kasih kepada Keraton Amarta Bumi dan MADUKARA atas kepercayaan yang diberikan. Ia berharap dapat terus mengabdikan diri di bidang seni, sejarah, dan budaya Nusantara.

Sementara itu, pimpinan MADUKARA menegaskan bahwa setiap penerima penghargaan telah melalui kajian mendalam dan merupakan “panggilan alam” sebagai pelestari nilai luhur budaya Nusantara.

Acara berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan, dihadiri unsur Forkopimda Kendal, perwakilan trah Keraton Solo, Yogyakarta, hingga Sumenep Madura.