GARUT – Di bawah naungan rimbunnya pepohonan Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, waktu seolah berjalan melambat di Kampung Adat Dukuh. Perkampungan yang bertengger sunyi di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut ini masih memegang erat warisan leluhur sejak abad ke-17, era Syeh Abdul Jalil. Namun, di balik keteguhan mereka menjaga harmoni alam dan tradisi pamali, tersimpan sebuah nestapa mendalam yang luput dari pandangan dunia luar.
Senin, 23 Juni 2026, langkah kaki Tim MASDA Jabar yang dipimpin oleh Ketua Umum Abah Anton Charliyan bersama staf memecah keheningan tanah adat tersebut. Kedatangan mereka disambut oleh tatapan tulus penuh harap dari Sesepuh Adat, Mama Uluk, dan Uwa Buloh Ibrahim. Pertemuan di dalam ruangan berbilik bambu itu tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, melainkan ruang pengaduan atas kondisi pemukiman yang kian memprihatinkan.
Fakta di lapangan berbicara dengan getir. Sebanyak 60 persen hingga 80 persen rumah panggung di area kampung dalam kini dalam kondisi rusak dan kurang terawat. Atap-atap ijuk yang menjadi pelindung utama dari hujan kini telah banyak yang bocor.
Ironisnya, kirai dan ijuk asli harganya kian melambung, tak lagi terjangkau oleh kantong warga yang mayoritas menyambung hidup sebagai buruh tani dan penyadap. Tidak hanya itu, tiang-tiang kayu penyangga yang dahulu kokoh, kini mulai keropos dan lapuk perlahan akibat digerogoti kawanan rayap.
Pemandangan serupa juga menyelimuti Madrasah dan Mushola setempat—fasilitas sakral tempat anak-anak melantunkan ayat suci, kini menanti uluran tangan agar tidak ambruk ditelan waktu.
Ketertinggalan ini diperparah oleh aksesibilitas yang menyiksa. Jalan masuk sepanjang 9 kilometer selepas jalur lintas selatan Ranca Buaya menuju jantung kampung adat dalam kondisi rusak berat. Mobilitas warga lumpuh, menyulitkan pasokan minyak tanah yang menjadi satu-satunya sumber penerangan malam hari di kala listrik dilarang masuk oleh adat.
“Kami tidak memiliki tanah ulayat untuk digarap bersama, yang ada hanyalah Leuweung Larangan yang harus kami jaga kesuciannya,” bisik sesepuh dengan nada lirih. Di tengah himpitan ekonomi, mereka merindukan tanah garapan komunal dan penataan lingkungan asri agar sampah tidak lagi bertebaran di area kampung luar.
Sebelum tim berpamitan, sebuah pesan ekologis yang menggetarkan dititipkan oleh Mama Uluk. Dari bilik anyaman bambu itu, ia mengingatkan dunia luar akan kondisi Gunung Papandayan yang pohonnya kian gundul akibat alih fungsi lahan.
Papandayan adalah jantung Jawa Barat, hulu dari tiga sungai raksasa: Citarum, Cimanuk, dan Ciwulan. Tanpa adanya reboisasi akbar dalam waktu dekat, bencana kekeringan, banjir, dan longsor massal tinggal menunggu waktu.
Perjalanan pulang Tim MASDA Jabar menyusuri jalanan rusak itu membawa satu refleksi besar: menjaga tradisi bukan berarti membiarkan mereka terisolasi dalam kemiskinan. Kampung Dukuh telah memberi kita pelajaran berharga tentang menjaga hutan larangan; kini saatnya kita bergerak bersama merenovasi atap-atap mereka yang bocor sebelum luruh tak bersisa.








