Daerah

Perhatikan! Kebiasaan Sepele Ini Jadi Pemicu Kebakaran Garut Naik 1819%

×

Perhatikan! Kebiasaan Sepele Ini Jadi Pemicu Kebakaran Garut Naik 1819%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Garut
Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Garut

GARUT – Kabupaten Garut tengah menghadapi status darurat tersembunyi akibat lonjakan insiden kebakaran yang luar biasa sepanjang tahun 2026. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Garut mencatat terjadinya 641 kejadian kebakaran dari awal tahun hingga 25 Oktober 2026. Angka ini melonjak tajam sekitar 185 persen dibandingkan keseluruhan kejadian kebakaran sepanjang tahun 2025 yang hanya mencapai 225 insiden.

Kondisi yang paling mengkhawatirkan berasal dari eskalasi kebakaran lahan. Data Disdamkarmat memperlihatkan bahwa pada tahun 2025, hanya tercatat 21 kejadian kebakaran lahan. Namun, hingga menjelang akhir Oktober 2026, jumlahnya meroket tajam menjadi 403 kejadian. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hingga 1819 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan paling ekstrem terjadi pada puncak musim kemarau, yakni pada bulan Agustus dengan 122 kejadian, disusul September dengan 107 kejadian, dan Juli sebanyak 81 kejadian.

Rentetan insiden ini menyebabkan lahan seluas 173,7 hektare di wilayah Garut hangus terbakar. Luas area yang terdampak paling parah terjadi secara berturut-turut pada September seluas 50,68 hektare dan Oktober seluas 50,65 hektare.

Hal yang jarang disorot secara luas adalah penyebab utama di balik bencana lingkungan ini. Berdasarkan analisis data penyelesaian kasus Disdamkarmat, kelalaian manusia menjadi faktor paling dominan. Sisa pembakaran menyumbang angka tertinggi sebesar 37,29 persen dari total penyebab kebakaran, jauh melampaui penyebab akibat korsleting listrik yang berada di angka 17,47 persen. Fakta ini menegaskan bahwa kebiasaan warga meninggalkan sisa pembakaran tanpa pengawasan memicu dampak destruktif yang meluas.

Beberapa wilayah tercatat menjadi titik paling rawan (hotspot) selama tahun 2026. Kecamatan Leles menempati urutan pertama dengan 39 insiden, disusul Malangbong dengan 37 kejadian, dan Banyuresmi 36 kejadian. Khusus untuk kasus kebakaran lahan, wilayah Leles juga menduduki peringkat teratas dengan 33 kasus, diikuti wilayah selatan Pameungpeuk dengan 30 kasus.

Di luar krisis lahan, tingkat kebakaran nonlahan di Garut pada 2026 juga mengalami eskalasi yang signifikan. Tercatat sebanyak 238 kejadian hingga 25 Oktober 2026. Angka tersebut telah resmi melebihi total keseluruhan kejadian nonlahan sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 204 kejadian, mencetak peningkatan sebesar 17 persen.

Tingginya intensitas tugas ini terlihat dari aktivitas keseharian petugas. Pada laporan penanganan harian per 25 Oktober 2026 saja, tim Disdamkarmat harus merespons empat kejadian, yang meliputi satu kejadian kebakaran nonlahan serta tugas penyelamatan satwa seperti evakuasi ular dan evakuasi biawak. Bencana yang meluas ini menuntut kesadaran kolektif warga untuk menghentikan kebiasaan buruk meninggalkan sisa pembakaran yang memicu petaka.