TASIKMALAYA – Tasikmalaya saat itu bukan sekadar ramai.
Ia seperti sedang membuka kembali pintu masa lalu.
Di jalanan menuju Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, ribuan orang berdesakan. Ada yang memakai iket Sunda. Ada yang membawa bendera. Ada pula yang hanya berdiri diam sambil merekam iring-iringan Mahkota Binokasih lewat layar telepon genggam.
Mahkota itu bukan benda biasa.
Ia simbol.
Ia jejak kekuasaan Sunda lama.
Ia pengingat bahwa peradaban pernah berdiri megah di tanah yang hari ini bernama Jawa Barat.
Dan di tengah iring-iringan itu, berdiri seorang pria sepuh berikat kepala Sunda. Tubuhnya tegap. Tatapannya tajam. Suaranya masih berat khas mantan jenderal polisi.
Irjen Pol (Purn) DR H Anton Charliyan.
Orang Sunda lebih mengenalnya sebagai Abah Anton.
Hari itu ia tidak sedang berbicara soal keamanan. Tidak juga soal politik.
Ia bicara tentang “akar”.
Tentang sesuatu yang menurutnya mulai hilang dari masyarakat modern: ingatan sejarah.
“Bangsa yang besar itu bangsa yang tidak putus hubungan dengan karuhunnya,” katanya pelan.
Kalimat itu meluncur tanpa teks.
Tanpa podium.
Tanpa gaya pejabat.
Dan justru karena itu terdengar kuat.
Kirab Mahkota Binokasih “Napak Tilas Padjajaran” memasuki tahun ketiga.
Sebelumnya digelar di Sumedang dan Kawali Ciamis.
Kini giliran Tasikmalaya.
Tema tahun ini: “Nyukcruk Galur Galunggung”.
Mencari kembali jejak Galunggung.
Mencari kembali urat tua peradaban Sunda.
Awalnya acara akan dipusatkan di Kampung Naga.
Tapi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memutuskan memindahkan titik akhir kirab ke Pendopo Kabupaten Tasikmalaya.
Alasannya sederhana: macet.
Namun substansinya tidak berubah.
Kirab tetap berlangsung megah.
Kuda pengawal berjalan perlahan.
Kereta kencana membawa Mahkota Binokasih melintas di tengah lautan manusia.
Puluhan kesenian daerah tampil bergantian.
Sunda seperti sedang bercermin melihat dirinya sendiri.
Dan di titik paling penting acara itu, terjadi sebuah prosesi yang membuat suasana berubah hening.
Bupati Tasikmalaya menyerahkan Naskah Amanat Galunggung kepada Kang Dedi Mulyadi.
Di sampingnya berdiri Abah Anton.
Khidmat.
Nyaris seperti ritual kenegaraan zaman lama.
Naskah itu bukan sekadar teks sejarah.
Ia wasiat peradaban.
Di dalamnya ada pesan legendaris:
“Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.”
Ada masa lalu, maka ada masa kini.
Tanpa masa lalu, tidak akan ada masa kini.
Abah Anton menyebut amanat itu jauh lebih penting dari sekadar romantisme budaya.
“Itu pesan kebangsaan,” katanya.
Lalu ia mengutip bagian paling sakral dari Amanat Galunggung.
Kalimat yang membuat banyak orang terdiam.
“Jaga ieu kabuyutan ulah tepi ka dikuasai ku asing…”
Jaga tanah leluhur ini jangan sampai dikuasai orang asing.
Bagi Abah Anton, itu bukan sekadar petuah abad ke-12.
Itu alarm.
Itu peringatan.
Bahwa modernisasi boleh datang. Teknologi boleh berkembang. Tetapi identitas jangan sampai hilang.
“Kalau urang Sunda kehilangan akar budaya dan nasionalismenya, habis,” ujarnya.
Nada suaranya meninggi.
Matanya tajam.
Mungkin naluri jenderalnya masih hidup.
Abah Anton memang unik.
Ia mantan Kapolda Jawa Barat.
Mantan Kadiv Humas Polri.
Tetapi ketika bicara budaya Sunda, ia berubah seperti seorang sejarawan.
Sangat emosional.
Sangat personal.
Ia hafal sejarah kerajaan Sunda.
Ia bicara Mahkota Binokasih bukan sebagai artefak museum, tetapi sebagai simbol legitimasi dan eksistensi urang Sunda.
“Binokasih itu artinya kasih sayang,” katanya.
Pemimpin, menurut filosofi mahkota itu, harus memimpin dengan welas asih.
Asih.
Asah.
Asuh.
Bukan dengan amarah.
Bukan dengan kekuasaan semata.
Mungkin itu sebabnya kirab ini terasa berbeda.
Ia bukan festival biasa.
Ia seperti gerakan kebudayaan.
Ada pesan politik kebangsaan di dalamnya.
Ada kegelisahan tentang identitas.
Ada kecemasan tentang generasi muda yang makin jauh dari akar sejarahnya.
Dan Abah Anton tampak menikmati peran itu.
Bukan lagi sebagai mantan polisi.
Tetapi sebagai penjaga memori kolektif Sunda.
Malam makin latut di Pendopo Tasikmalaya.
Kerumunan belum bubar.
Di kejauhan suara kendang masih terdengar.
Anak-anak kecil berlarian membawa bendera Sunda.
Orang-orang sibuk berfoto dengan latar Mahkota Binokasih.
Sementara Abah Anton masih berdiri melayani warga yang ingin bersalaman.
Sesekali ia tersenyum.
Sesekali tertawa.
Namun ketika ditanya apa yang paling penting dari kirab budaya ini, jawabannya justru sangat sederhana.
“Supaya anak cucu kita tahu siapa dirinya.”
Lalu ia diam.
Cukup lama.
Seolah sedang melihat sesuatu yang jauh.
Mungkin Pajajaran.
Mungkin Galunggung.
Atau mungkin masa depan Sunda yang sedang dipertaruhkan.








