JAKARTA — Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya seorang rasul, tetapi juga panglima perang. Dalam sejarah hidupnya, beliau tercatat memiliki sejumlah pedang yang digunakan untuk menegakkan tauhid. Para sejarawan berbeda pendapat soal jumlahnya—ada yang menyebut sembilan, ada pula yang menghitung sebelas. Namun, riwayat yang paling populer menyebutkan sembilan bilah pedang.
Berikut nama dan sejarah singkatnya.
1. Al-Ma’tsur (الْمَأْثُور)
Pedang warisan dari ayah Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib. Panjangnya 99 cm, berhias emas menyerupai dua ular dan bertatahkan zamrud serta pirus. Di dekat pegangannya terukir nama “Abdullah bin Abd al-Muthalib”. Nabi membawa pedang ini saat hijrah, lalu memberikannya kepada Ali bin Abi Thalib.
2. Al-‘Adhb (الْعَذْب)
Berarti “tajam” atau “memotong”. Nabi menerimanya sesaat sebelum Perang Badar dan baru menggunakannya saat Perang Uhud.
3. Dzulfikar / Dhu al-Fiqar (ذُو الْفِقَار)
Inilah pedang yang paling disayang Nabi ﷺ. Dzulfikar adalah rampasan Perang Badar, berbentuk unik: bilahnya melengkung dan terbelah dua di ujungnya. Nabi memberikannya kepada Ali bin Abi Thalib, yang saat itu pedangnya patah dalam pertempuran. Di badan pedang ini tertulis: “Tidak ada pemuda seperti Ali, dan tidak ada pedang seperti Zulfikar.”.
4. Al-Battar (الْبَتَّار)
Dijuluki “Pedangnya Para Nabi” karena terukir nama Nabi Daud, Sulaiman, Musa, Harun, Yusuf, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad. Pedang ini rampasan dari Bani Qainuqa’. Konon, inilah pedang yang kelak digunakan Nabi Isa AS untuk mengalahkan Dajjal.
5. Al-Hatf (الْحَتْف)
Juga rampasan dari Bani Qainuqa’. Bentuknya mirip Al-Battar, tetapi lebih besar: panjang 112 cm dan lebar 8 cm. Sebelum sampai ke tangan Nabi, pedang ini sempat disimpan oleh suku Levita.
6. Al-Mikhdam (الْمِخْضَم)
Pedang sepanjang 97 cm dengan ukiran “Zaynuddin al-Abidin”. Menurut riwayat, Nabi memberikannya kepada Ali bin Abi Thalib, lalu diwariskan kepada anak-anaknya.
7. Al-Rasub (الرَّسُوب)
Panjang 140 cm, dengan hiasan bulatan emas bertuliskan “Ja’far al-Shadiq”. Pedang ini disebut tersimpan di kediaman Rasulullah dan kini menjadi koleksi Museum Topkapi, Istanbul.
8. Al-Qadib (الْقَضِيب)
Pedang tipis mirip tongkat, panjang 100 cm. Tidak digunakan untuk berperang, melainkan untuk pertahanan saat bepergian. Terukir kalimat tauhid dan syahadat di bilahnya.
9. Al-Qal’a / Qul’ay (الْقَلْعِيّ)
Pedang bergelombang sepanjang 100 cm. Sebagian riwayat menyebutnya sebagai pedang yang ditemukan saat menggali Sumur Zamzam. Terukir: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.”.
Warisan kepada Siapa?
Mayoritas riwayat menyebutkan bahwa pedang-pedang Nabi ﷺ—terutama Al-Ma’tsur, Dzulfikar, dan Al-Mikhdam—diwariskan kepada Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu beliau. Dari Ali, pedang-pedang itu diteruskan kepada anak-anaknya, seperti Zainal Abidin (terukir di Al-Mikhdam) dan Muhammad bin Abdullah (pembawa Dzulfikar setelah Ali wafat).
Sebagian pedang kini tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki, menjadi saksi bisu perjuangan Rasulullah ﷺ dalam menegakkan kalimat tauhid.




