NAMA itu begitu elok: Sunda.
Anda yang lahir di Tanah Pasundan tentu bangga. Tapi pernahkah Anda benar-benar duduk sejenak dan merenungkan satu pertanyaan sederhana ini: dari mana sebenarnya kata “Sunda” itu berasal?
Apakah dari letusan gunung api purba? Apakah dari perbendaharaan bahasa Sanskerta? Atau murni diimpor dari negeri India oleh para saudagar masa silam?
Topik ini selalu menarik untuk didiskusikan. Banyak sejarawan dan pemerhati kebudayaan yang mencoba membedahnya dari berbagai sudut pandang. Salah satunya Kang Oos Supyadin, SE, MM, seorang pemerhati sejarah Sunda kontemporer yang aktif mengulas dinamika kebudayaan Pasundan.
Dalam jejak analisis sejarah, ada hipotesis menarik: bahwa secara historis, istilah Sunda bisa jadi bertaut rapat dengan pengaruh budaya dari India.
Jejak itu membentang jauh ke abad ke-2 Masehi, saat Kerajaan Salakanagara berdiri di ujung barat Pulau Jawa. Rajanya, Dewawarman I, merupakan pendatang dari India yang menikahi putri penguasa lokal, Pohaci Larasati (Dewi Dwani)—putri dari Aki Tirem.
Catatan sejarah menunjukkan, sepanjang abad ke-2 hingga ke-4 Masehi, Salakanagara dipimpin oleh 11 penguasa secara berurutan. Sembilan di antaranya bergelar Dewawarman, dan dua lainnya adalah ratu. Tata kelola pemerintahannya tergolong stabil pada zamannya.
Lalu zaman bergeser.
Episentrum kekuasaan berpindah ke Kerajaan Tarumanagara yang bertahan hingga abad ke-7 di bawah pimpinan 12 orang raja. Rajanya yang paling legendaris Anda tentu sudah tahu: Purnawarman.
Pada tahun 397 Masehi, Maharaja Purnawarman memindahkan ibu kota kerajaannya ke kawasan pesisir. Nama ibu kota baru itu: Sundapura.
Dari Sundapura itulah, istilah “Sunda” kemudian terpatri abadi sebagai identitas geografis dan kemasyarakatan di Jawa Barat. Catatan ini tertuang dalam naskah kuno Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara karya Pangeran Wangsakerta dari Cirebon, serta bersesuaian dengan berita Tiongkok kuno yang menyebut kawasan ini sebagai Aji Kerta atau Salaka (Negeri Perak).
Para ahli sejarah, linguis, hingga geolog kini memetakan setidaknya ada empat sudut pandang utama terkait asal-usul nama Sunda:
Pertama, Kajian Linguistik Sanskerta. Sejarawan Belanda G.P. Rouffaer mencatat bahwa kata Sunda berakar dari bahasa Sanskerta Śundh atau Śuddha (ditulis juga Cuddha). Artinya: bersinar, terang, berkilau, murni, atau putih. Pengaruh ini masuk seiring derasnya arus perdagangan Samudra Hindia dan adopsi kebudayaan Hindu-Buddha di istana Salakanagara serta Tarumanagara.
Kedua, Kajian Geologi & Vulkanologi Purba. Ahli geologi R.W. van Bemmelen dalam bukunya The Geology of Indonesia (1949) mengaitkan istilah ini dengan Gunung Sunda Purba. Letusan dahsyat gunung api raksasa ini di masa pra-sejarah menyelimuti dataran tinggi Bandung dengan endapan abu vulkanik dan batu apung berwarna putih. Kondisi lanskap alam yang memutih itulah yang membuat para pengelana zaman purba menyebut kawasan ini sebagai “Negeri Putih”.
Ketiga, Filologi Jawa Kuno dan Bali. Dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) dan Bali, kata sunda diartikan sebagai sesuatu yang bersih, suci, murni, tanpa cela, serta merujuk pada air atau tingkatan pangkat yang tinggi. Artinya, sejak awal nama Sunda bukan sekadar penanda wilayah fisik, melainkan simbol kualitas spiritual.
Keempat, Transformasi Epigrafi. Secara epigrafis, keberadaan nama ini makin kokoh melalui batu bersurat. Dari naskah yang mencatat Sundapura tahun 397 M, dilanjutkan Prasasti Kebonkopi II (854 Saka / 932 M) yang menyebut Hajī Sunda (Raja Sunda), hingga Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) yang mencatat kekuasaan Sri Jayabhupati sebagai Maharaja Sunda.
Usaha para peneliti dan pemerhati sejarah kontemporer—seperti Kang Oos dan banyak akademisi lainnya—dalam merawat diskursus ini menjadi sangat krusial. Mereka menyodorkan cermin besar bagi masyarakat untuk kembali melihat jati dirinya.
Menggali sejarah nama Sunda bukan cuma perkara mempertentangkan apakah istilah ini murni dari India atau bentukan alam lokal. Sejarah justru membuktikan betapa terbukanya peradaban Sunda purba dalam menyerap nilai-nilai luhur dunia luar tanpa kehilangan akar kearifan lokalnya (local genius).
Jika secara etimologi kata Sunda bermakna terang, murni, suci, dan berkilau, maka nama itu pada hakikatnya adalah sebuah amanat moral (sundara/sundari).
Menjadi orang Sunda berarti mengemban tanggung jawab untuk memiliki hati yang bersih, pikiran yang terang, dan tindakan yang membawa kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.
Akar kata ini selaras betul dengan falsafah hidup tradisional Pasundan:
Cageur (sehat jasmani dan rohani)
Bageur (berkelakuan baik dan murah hati)
Bener (jujur dan berjalan di atas kebenaran)
Singer (mawas diri dan terampil)
Pinter (cerdas dan bijaksana)
Memahami sejarah asal-usul nama Sunda adalah pemantik rasa percaya diri kebudayaan (cultural confidence). Bangsa yang paham akan akarnya tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh zaman.
Maka, setiap kali Anda mendengar kata “Sunda”, ingatlah pesan sejarah di baliknya: bahwa di dalam nama itu tersimpan harapan akan lahirnya pribadi-pribadi yang berhati suci dan berpikiran terang. (REDAKSI)




