TEHERAN – Iran menegaskan tetap akan mempertahankan hak pengayaan uranium dan memperluas kontrol strategis atas Selat Hormuz meski tekanan Amerika Serikat terus meningkat.
Laporan itu disampaikan jurnalis Resul Serdar dari Teheran dalam siaran Al Jazeera.
Menurut Resul Serdar, Selat Hormuz dan program nuklir menjadi dua titik paling alot dalam negosiasi terbaru antara Iran dan Amerika Serikat.
Iran meminta penghentian perang di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon dan Irak, serta menuntut jaminan resmi dari Dewan Keamanan PBB bahwa perang tidak akan kembali terjadi.
Selain itu, Teheran juga meminta pencabutan blokade ekonomi Amerika dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun di saat yang sama, Iran menegaskan situasi geopolitik kawasan telah berubah dan Teheran akan tetap memperluas kedaulatannya atas Selat Hormuz.
“Itu menjadi salah satu titik ketegangan utama antara Iran dan Amerika,” lapor Resul Serdar.
Dalam isu nuklir, Iran menyatakan bersedia membuka pembicaraan pada tahap kedua negosiasi. Meski demikian, Teheran menolak menghentikan pengayaan uranium untuk kepentingan damai.
Iran juga menolak membongkar fasilitas nuklir maupun mengirim keluar cadangan uranium yang telah diperkaya lebih dari 400 kilogram.
Padahal Amerika Serikat menuntut Iran membongkar fasilitas nuklir dan menyerahkan uranium yang sudah diperkaya.
Selain itu, Iran juga mulai menggagas pembentukan tatanan keamanan baru di Timur Tengah tanpa keterlibatan Amerika Serikat.
Rencana tersebut disebut akan dibahas bersama negara-negara kawasan setelah perang benar-benar berakhir dan kesepakatan dengan Washington tercapai.








