WASHINGTON – Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menolak proposal terbaru dari Teheran.
Melalui media sosial Truth Social, Trump menyebut tawaran Iran sebagai “totally unacceptable” atau sama sekali tidak dapat diterima.
Pernyataan Trump memicu kekhawatiran baru terhadap masa depan negosiasi yang selama ini dimediasi sejumlah negara kawasan.
Dalam wawancara Al Jazeera, mantan Pejabat di Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat Jenderal Mark Kimmit menyebut kebuntuan terjadi karena Iran dinilai tidak memberikan jawaban jelas terhadap tiga tuntutan utama Washington.
“Tiga isu utama sejak awal adalah program nuklir, rudal balistik, dan operasi proksi Iran,” ujarnya.
Menurut Kimmit, Amerika Serikat tetap fokus pada penghentian program nuklir Iran yang dianggap ilegal.
Ia menilai respons Teheran justru menghindari pembahasan inti mengenai penghentian pengayaan nuklir.
“Saya rasa Iran sepenuhnya menolak membahas isu nuklir. Itu tidak akan berhasil,” kata Kimmit.
Mantan pejabat militer AS itu menegaskan Washington memandang program rudal balistik serta dukungan Iran terhadap kelompok proksi di Lebanon, Gaza, Yaman, Suriah, dan Irak sebagai ancaman utama kawasan.
Sementara itu, akademisi Teheran University Iran Mohammad Eslami menilai kegagalan negosiasi dipicu krisis kepercayaan Teheran terhadap pemerintahan Trump.
Menurutnya, Iran merasa telah dua kali dikhianati karena Amerika tetap melakukan serangan militer di tengah proses negosiasi aktif.
“Ini soal keamanan dan hak rakyat Iran, bukan soal apakah Presiden Amerika menyukai atau tidak proposal kami,” ujar Eslami.
Ia menegaskan Iran tidak mungkin menyerahkan cadangan uranium hasil pengayaan tanpa adanya pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini menekan Teheran.
Selain itu, Iran juga menuntut penghentian blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai syarat penting keberlanjutan perundingan.
“Selama blokade tetap berlangsung, negosiasi tidak akan berjalan,” katanya.
Eslami menyebut proposal Iran sebenarnya merupakan jalan keluar terbaik bagi Washington untuk mengakhiri krisis tanpa perang terbuka.
Namun hingga kini, kedua negara masih terjebak pada perbedaan mendasar terkait program nuklir, pengaruh militer Iran di kawasan, dan kontrol strategis di Selat Hormuz.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik Iran-Amerika Serikat berpotensi kembali meningkat di tengah memanasnya kawasan Timur Tengah.








