SPIRITS.ID – Pemerintah Indonesia dan Kazakhstan menjajaki penguatan kolaborasi di berbagai sektor strategis, mulai dari energi, industri, pertanian, pengolahan pangan, tekstil, perbankan syariah, ekonomi digital, pendidikan, hingga sektor pariwisata.
Peluang kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Airlangga Hartarto dengan Perdana Menteri Kazakhstan, Olzhas Bektenov, di Government House Kazakhstan, Astana, Senin.
Pertemuan itu berlangsung di sela agenda Sidang Komisi Bersama RI-Kazakhstan ke-2 dan menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan ekonomi strategis kedua negara.
“Indonesia melihat Kazakhstan sebagai mitra strategis di Kawasan Asia Tengah dan Eurasia. Dengan posisi geografis dan konektivitas regional yang dimiliki Kazakhstan, terdapat peluang besar untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan industrial partnership antara kedua negara,” kata Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Pada sektor energi, kedua negara menyoroti pentingnya kerja sama dalam transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan. Indonesia juga kembali menegaskan target pencapaian net zero emission pada 2060.
Selain itu, pembahasan turut mencakup peluang pengembangan panas bumi atau geothermal, hilirisasi industri, hingga penguatan ekosistem kendaraan listrik beserta baterainya. Penjajakan kerja sama di bidang minyak dan gas bumi juga menjadi salah satu fokus diskusi.
Dalam bidang ekonomi digital, Indonesia memaparkan target peningkatan nilai ekonomi digital nasional dari sekitar 130 miliar dolar AS menjadi 200 miliar dolar AS pada tahun 2030.
Kedua negara menilai transformasi digital sebagai sektor strategis baru yang berpotensi mempererat hubungan ekonomi bilateral di masa mendatang.
Sementara di bidang investasi, Indonesia dan Kazakhstan menekankan pentingnya penguatan mekanisme investasi serta kemudahan fasilitasi bisnis. Astana International Financial Centre dipandang berpotensi menjadi platform utama dalam mendukung penguatan investasi dan konektivitas ekonomi kawasan.
Kedua negara juga memberi perhatian pada penguatan konektivitas logistik dan transportasi.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula pemanfaatan posisi strategis Kazakhstan sebagai jalur transit, pengembangan koridor transportasi internasional, hingga penguatan jalur logistik dan terminal perdagangan menuju pasar Asia Tengah dan Eurasia.
Selain itu, kedua pihak turut menyoroti pentingnya penguatan border economic cooperation guna memperlancar arus perdagangan serta memperluas akses pasar.
Airlangga menyebut Indonesia terus aktif mendorong peningkatan perdagangan dengan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) setelah tercapainya kesepakatan Indonesia–EAEU Free Trade Agreement pada 21 Desember 2025.
Menurutnya, Kazakhstan sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tengah memiliki posisi penting bagi Indonesia dalam memperluas perdagangan di kawasan Eurasia.
Dengan produk domestik bruto sekitar 333,7 miliar dolar AS dan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5 persen pada 2025, Kazakhstan dinilai sebagai mitra strategis Indonesia dalam penguatan perdagangan, investasi, konektivitas logistik, energi, mineral strategis, serta transformasi digital.
Airlangga juga menegaskan bahwa Indonesia memandang Kazakhstan sebagai strategic gateway menuju kawasan Eurasia sekaligus mitra penting dalam mendukung diversifikasi perdagangan dan penguatan rantai pasok regional.
Sementara itu, PM Bektenov kembali menegaskan komitmen pemerintah Kazakhstan untuk memperluas hubungan perdagangan dan investasi dengan Indonesia.
“Kazakhstan memberikan perhatian besar pada perluasan hubungan perdagangan dan ekonomi dengan Indonesia. Kami meyakini adanya potensi signifikan untuk meningkatkan capaian ini dan kami sangat tertarik untuk memperluas kerja sama investasi,” ujar Bektenov.








