Internasional

Taliban Dukung Iran Jika Diserang AS

×

Taliban Dukung Iran Jika Diserang AS

Sebarkan artikel ini
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid

Ketegangan Timur Tengah kembali memanas seiring rencana penambahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan. Bukan hanya pemerintah Iran yang bersiap, sejumlah aktor non-negara pun mulai angkat suara.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam wawancara dengan radio Iran menyatakan pihaknya akan membantu dan mendukung Republik Islam Iran jika benar-benar diserang Amerika Serikat.

Namun Mujahid memberi catatan penting. Dukungan itu, katanya, tidak otomatis berarti Taliban akan terlibat dalam perang terbuka melawan Washington. Ia menegaskan Taliban tetap mengedepankan jalur diplomasi dan berharap negosiasi program nuklir Iran terus berlanjut.

Ia bahkan menyinggung konflik bersenjata antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Menurutnya, Iran “menang” dalam konflik tersebut dan diyakini mampu mempertahankan diri jika kembali diserang.

Meski demikian, hubungan Iran dan Taliban tidak sepenuhnya harmonis. Perbedaan ideologi selama bertahun-tahun sempat memicu ketegangan. Namun sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul pada Agustus 2021, pendekatan pragmatis mulai terbangun.

Pada Januari 2022, Menteri Luar Negeri Iran saat itu, Hossein Amir-Abdollahian, melakukan kunjungan ke Kabul dan bertemu pejabat tinggi Taliban, termasuk Amir Khan Muttaqi. Pertemuan membahas isu konkret seperti pengelolaan air, migrasi, dan keamanan perbatasan.

Dukungan keras juga datang dari Irak. Kelompok paramiliter Kataib Hezbollah menyatakan siap bergerak jika Iran diserang. Pimpinnya, Abu Husein Al-Hamidawi, memperingatkan bahwa perang melawan Teheran akan memicu konsekuensi besar di kawasan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan mendesak Perdana Menteri Irak agar tidak terseret terlalu dekat dengan pengaruh Teheran.

Dengan Taliban di timur, milisi Irak di barat, dan Israel di selatan, Iran kini berada di pusat pusaran ketegangan. Diplomasi masih berjalan, tetapi bayang-bayang eskalasi semakin nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *