Nasional

Selat Hormuz Ditutup: Bahlil Jamin Harga BBM Tidak Naik

×

Selat Hormuz Ditutup: Bahlil Jamin Harga BBM Tidak Naik

Sebarkan artikel ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

JAKARTA – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan mengalami kenaikan meski terjadi eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan stok nasional dalam kondisi aman, termasuk menjelang Idulfitri.
“Untuk persiapan hari raya dan bulan puasa, stok BBM dan LPG kita rata-rata di atas standar minimum nasional. Standar minimum 21 hari, dan stok kita di atas itu,” ujar Bahlil kepada awak media.

Ia mengakui ketegangan global tidak bisa diprediksi kapan berakhir. Berdasarkan kajian dan komunikasi dengan berbagai pihak internasional, pemerintah tidak mengambil asumsi optimistis.

“Jujur saya katakan, dari intelijen dan kajian kami, ketegangan ini tidak bisa kita ramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat. Maka kami ambil skenario terburuk kalau ini berlangsung lama,” tegasnya.

Diversifikasi Impor Jadi Kunci

Bahlil menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap crude dari Timur Tengah sebenarnya relatif terbatas. Dari total impor minyak mentah nasional, hanya sekitar 20–25 persen yang berasal dari kawasan tersebut.

“Selebihnya kita ambil dari Afrika seperti Angola, dari Amerika, Brasil, dan beberapa negara lain. Jadi tidak semuanya tergantung pada Selat Hormuz,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk memastikan kepastian pasokan.

Sementara untuk impor bensin RON 90, 93, 95, dan 98, Indonesia tidak bergantung pada Timur Tengah. Pasokan diperoleh dari negara-negara di luar kawasan tersebut, termasuk Asia Tenggara.

“Jadi untuk BBM jenis bensin relatif tidak ada masalah,” tambahnya.

LPG Dialihkan dari Timur Tengah

Tantangan berikutnya adalah LPG. Indonesia mengimpor sekitar 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini meningkat menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persen berasal dari Amerika Serikat, dan 30 persen dari Timur Tengah melalui Saudi Aramco.

Dengan dinamika terbaru di kawasan tersebut, pemerintah mengambil langkah “switching” atau pengalihan sebagian pasokan agar tidak terpapar risiko Selat Hormuz.

“Kita switch lagi supaya tidak mengambil risiko dari wilayah yang terdampak ketegangan,” kata Bahlil.

Tekanan Harga ICP dan APBN

Meski pasokan aman, pemerintah tetap mewaspadai lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP). Dalam APBN, asumsi ICP ditetapkan 70 dolar AS per barel. Saat ini, harga bergerak di kisaran 78–80 dolar AS per barel.

Kenaikan ini berpotensi menambah beban subsidi energi. Namun di sisi lain, negara juga memperoleh tambahan pendapatan karena produksi domestik mencapai sekitar 600 ribu barel per hari.

“Selisihnya sedang kita hitung secara hati-hati. Arahan Bapak Presiden, kita harus pastikan ketersediaan BBM dalam negeri tetap terjamin,” ujarnya.

Storage Energi Akan Diperkuat

Bahlil juga mengakui kapasitas penyimpanan energi nasional masih terbatas, maksimal 25–26 hari. Pemerintah tengah menyiapkan pembangunan fasilitas storage agar mampu bertahan hingga tiga bulan, sesuai standar internasional.

“Ketahanan energi ini penting. Pemerintahan bisa berganti, tapi sumber daya alam harus kita kelola hati-hati. Jangan kita obral murah barang-barang kita,” tandasnya.

Dengan berbagai skenario antisipasi tersebut, pemerintah memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan maupun harga BBM, meski dinamika geopolitik global masih terus bergejolak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *