Internasional

Trump Seret Pakistan ke Pusara Konflik, Klaim Damai dengan AS Dibantah Iran

×

Trump Seret Pakistan ke Pusara Konflik, Klaim Damai dengan AS Dibantah Iran

Sebarkan artikel ini
Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump

DOHA — Upaya meredakan konflik antara AS-Israel dan Iran memasuki babak baru. Pakistan diseret Presiden AS, Donald Trump, menjadi penghubung untuk membujuk Iran menghentikan serangan dan membuka Selat Hormuz.

Sumber resmi di Islamabad menyebut adanya komunikasi intensif terkait proposal 15 poin dari Washington. Namun, klaim tersebut langsung dibantah keras oleh Teheran.

Presiden AS, Donald Trump, bahkan menyatakan bahwa pembicaraan tengah berlangsung dan Iran disebut telah sepakat untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Namun, pernyataan itu ditolak mentah-mentah oleh otoritas Iran. Juru bicara militer menegaskan tidak ada negosiasi dengan Washington di tengah serangan yang masih berlangsung.

“Tidak ada kompromi. Iran yang akan menentukan kapan situasi kembali normal,” tegas pernyataan resmi militer Iran.

Senada, pejabat tinggi seperti Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Kementerian Luar Negeri Iran juga membantah adanya perundingan langsung.

Di lapangan, situasi justru kian memanas. Ibu kota Teheran kembali diguncang serangan udara dalam 24 jam terakhir. Ledakan besar dilaporkan terjadi di sejumlah titik, disertai aktivasi sistem pertahanan udara.

Serangan juga dilaporkan meluas ke berbagai kota, termasuk Tabriz, Shiraz, Karaj, Qazvin, hingga Shahre Rey. Di Tabriz, sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas akibat serangan yang menghantam kompleks pekerja perkeretaapian.

Di sisi lain, Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) mengklaim terus melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dalam operasi yang mereka sebut “True Promise 4”.

Meski komunikasi diplomatik tetap berjalan dengan sejumlah negara seperti Rusia, Oman, Mesir, hingga China, Iran menegaskan tidak ada ruang negosiasi langsung dengan AS selama serangan militer masih berlangsung.

Dengan eskalasi yang terus meningkat dan minimnya titik temu diplomatik, peluang de-eskalasi dalam waktu dekat dinilai masih jauh dari kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *