Internasional

Stok Rudal Menipis, Sampai Kapan Israel Bisa Bertahan

×

Stok Rudal Menipis, Sampai Kapan Israel Bisa Bertahan

Sebarkan artikel ini
Iron DomeIron DOme
Ilustrasi: Iron Dome Mencegat Serangan Rudal dan Drone Iran

TEL AVIV — Kemampuan Israel dalam menahan gempuran rudal Iran mulai dipertanyakan seiring meningkatnya intensitas konflik dan terkurasnya stok sistem pertahanan udara.

Dalam beberapa pekan terakhir, perang telah “membakar” persediaan rudal pencegat secara signifikan. Data perkiraan menunjukkan penggunaan ratusan rudal Patriot PAC-3 serta THAAD milik Amerika Serikat yang turut menopang pertahanan Israel.

Masalahnya, kapasitas produksi tidak sebanding dengan laju penggunaan. Produksi Patriot PAC-3 diperkirakan hanya sekitar 600 unit per tahun, sementara THAAD sekitar 150 unit per tahun. Angka ini hampir setara dengan jumlah yang telah digunakan dalam konflik saat ini.

Kondisi tersebut menimbulkan tekanan serius pada rantai pasok industri pertahanan. Meski ada upaya peningkatan produksi hingga tiga kali lipat, prosesnya tidak instan. Pembuatan satu rudal pencegat saja membutuhkan waktu berbulan-bulan, belum termasuk kompleksitas pengadaan komponen dari berbagai pemasok global.

Di sisi lain, Iran justru mengandalkan strategi asimetris. Selain rudal balistik, Teheran memaksimalkan penggunaan drone murah yang jauh lebih ekonomis. Satu drone tempur bahkan bisa diproduksi dengan biaya puluhan ribu dolar, jauh lebih murah dibandingkan rudal pencegat yang bisa mencapai jutaan dolar per unit.

Ketimpangan biaya ini menciptakan tekanan ekonomi bagi pihak yang bertahan. Untuk menjatuhkan satu drone murah, sistem pertahanan harus mengeluarkan rudal bernilai jutaan dolar.

Selain faktor biaya, Iran juga disebut memiliki stok persenjataan dalam jumlah besar, termasuk rudal dengan jangkauan yang terus berkembang hingga ribuan kilometer. Hal ini memperluas cakupan ancaman tidak hanya bagi Israel, tetapi juga kawasan yang lebih luas.

Analis menilai, jika konflik berlangsung dalam jangka panjang, tantangan utama Israel bukan hanya soal teknologi, melainkan keberlanjutan logistik dan ekonomi perang.

Dalam skenario tersebut, kemampuan bertahan Israel sangat bergantung pada dukungan Amerika Serikat serta kecepatan industri pertahanan dalam mengejar kebutuhan di medan perang. Tanpa itu, tekanan dari serangan berkelanjutan berpotensi mengikis efektivitas sistem pertahanan yang selama ini dianggap superior.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *