MOSCOW – Indonesia mulai menatap kemandirian Antariksa secara lebih serius. Salah satu langkah besarnya adalah rencana pembangunan pelabuhan antariksa di Biak, Papua, melalui penguatan kerja sama strategis dengan Rusia.
Agenda itu mengemuka dalam tayangan youtube media Rusia, RT Internasional. Wawancara itu berlangsung bertepatan dengam forum Cosmonautics Day di Moskow, sekaligus peringatan 65 tahun penerbangan manusia pertama ke luar angkasa oleh Yuri Gagarin.
Kepala BRIN, Profesor Arif Satria, menegaskan kehadiran Indonesia dalam forum tersebut bertujuan mempromosikan aktivitas antariksa nasional sekaligus memperdalam kolaborasi teknologi dengan Rusia.
“Tujuan utama kunjungan kami adalah mempromosikan kegiatan antariksa Indonesia dan memperkuat kerja sama dengan Rusia, khususnya pengembangan sektor antariksa,” ujar Arif Satria.
Menurut Arif, Rusia dipilih karena memiliki salah satu teknologi antariksa terbaik di dunia.
Kerja sama ini tidak hanya menyasar pembangunan roket atau fasilitas peluncuran, tetapi juga pembentukan ekosistem antariksa nasional yang menopang riset, industri, dan aktivitas ekonomi baru.
Dalam konteks itu, Biak menjadi titik strategis.
Pulau Biak di Papua sejak lama diproyeksikan sebagai lokasi ideal spaceport nasional karena berada dekat garis khatulistiwa, sehingga efisien untuk peluncuran satelit dan roket ke orbit rendah maupun geostasioner.
Rencana pembangunan spaceport di Biak bahkan dijadwalkan mulai memasuki fase konstruksi pada 2026, setelah regulasi operasional dan koordinasi lintas lembaga dimatangkan.
Arif menekankan, yang dibangun bukan hanya landasan peluncuran, tetapi keseluruhan rantai nilai industri antariksa.
“Ekosistem antariksa itu bukan hanya roket, tetapi juga ekonomi. Kami ingin banyak pihak memanfaatkan fasilitas ini untuk memperkuat space economy Indonesia,” tegasnya.
Selain proyek Biak, Indonesia juga tengah menyiapkan penguatan armada satelit generasi baru untuk memperluas layanan komunikasi dan data nasional.
Langkah menggandeng Rusia membangun spaceport di Biak bisa dibaca sebagai lompatan geopolitik dan teknologi
Indonesia: dari sekadar pengguna orbit menjadi pemain infrastruktur antariksa kawasan.
Jika proyek ini berjalan sesuai target, Biak berpotensi menjadi gerbang peluncuran satelit Asia Pasifik dari khatulistiwa Indonesia. (Sumber : RT Internaaional)




