WASHINGTON — Krisis blokade di Selat Hormuz mulai berubah menjadi bumerang bagi Amerika Serikat. Kebijakan Presiden Donald Trump memblokade pelabuhan Iran justru memicu lonjakan harga minyak global dan mengguncang stabilitas ekonomi sekutu-sekutunya sendiri.
Hal itu disampaikan Executive Vice President Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, dalam wawancara terbaru dengan AlJazeera di Washington DC.
Parsi menilai blokade yang diterapkan Washington bukan solusi strategis, melainkan “peluru perak delusional” yang justru memperburuk posisi Amerika Serikat dalam negosiasi dengan Teheran.
“Blokade ini lebih banyak menghambat kemajuan diplomasi dibanding menekan Iran,” kata Parsi.
Menurutnya, sebelum blokade diberlakukan, Trump sebenarnya sudah mendapat keuntungan besar setelah tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran.
Saat itu tekanan ekonomi terhadap Washington mulai mereda karena harga energi global sempat stabil.
Namun keputusan memperketat blokade membuat lebih banyak pasokan minyak hilang dari pasar dunia sehingga harga minyak kembali melonjak, bahkan lebih tinggi dibanding saat perang berlangsung.
Parsi mengungkapkan kenaikan harga minyak kini mulai memukul ekonomi domestik Amerika Serikat.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun disebut telah naik mendekati 4,5 persen, sementara tekanan inflasi energi mulai memicu keresahan politik di dalam negeri.
“Semua indikator ekonomi menunjukkan blokade justru membuat situasi Trump semakin buruk,” ujarnya.
Di sisi lain, Iran disebut tetap bertahan meski terkena tekanan ekonomi berat.
Parsi menegaskan Teheran telah hidup di bawah sanksi selama puluhan tahun dan memiliki pengalaman menghadapi tekanan ekonomi Barat.
“Iran sudah menghadapi sanksi selama 47 tahun. Tidak satu pun berhasil memaksa Iran menyerah,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui kedua pihak kini sama-sama menghadapi tekanan besar dan kemungkinan hanya mampu bertahan beberapa pekan lagi sebelum dipaksa kembali ke meja diplomasi.
Krisis Hormuz juga mulai menghantam banyak negara lain.
Sejumlah negara Asia dilaporkan mengalami kelangkaan bahan bakar, sementara Kuwait disebut tidak mengekspor minyak sama sekali selama sebulan terakhir—situasi yang disebut belum pernah terjadi dalam 30 hingga 40 tahun terakhir.
Parsi memperkirakan tekanan internasional, terutama dari China, akan semakin kuat untuk memaksa tercapainya solusi diplomatik antara Washington dan Teheran.
Dalam wawancara itu, Parsi juga menyoroti retaknya hubungan Amerika Serikat dengan Eropa.
Ia menilai keputusan Trump menarik lebih dari 5.000 tentara AS dari Jerman menjadi sinyal krisis besar dalam hubungan transatlantik.
“Hubungan Amerika dan Eropa sedang mengalami krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Menurut Parsi, sebagian persoalan memang dipicu gaya politik Trump, tetapi sebagian lain bersifat struktural karena Amerika Serikat mulai menganggap biaya menjaga payung keamanan Eropa terlalu mahal tanpa pembagian beban yang lebih besar dari negara-negara Uni Eropa.








