SPIRITS.ID – Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat mulai Juli 2026, sejalan dengan mulai meredanya permintaan valuta asing (valas) yang bersifat musiman dan meningkat pada periode April hingga Juni 2026.
Permintaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara musiman mengalami peningkatan pada April hingga Juni karena adanya kebutuhan pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, dan pelaksanaan ibadah haji.
“Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.
Perry menilai rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 masih akan berada dalam kisaran asumsi makro APBN yakni Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar AS dengan posisi tengah di sekitar Rp16.500 per dolar AS.
Di sisi lain, rata-rata nilai tukar rupiah secara year to date (ytd) tercatat berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS. Namun demikian, bank sentral tetap yakin penguatan rupiah pada Juli dan Agustus dapat membawa rata-rata tahunan kembali masuk ke rentang target APBN.
Terkait kondisi valas, Perry menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh situasi global yang memburuk sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada Februari lalu.
Peningkatan risiko geopolitik global terlihat dari naiknya credit default swap (CDS), melonjaknya harga minyak dunia, serta tingginya inflasi di AS yang memperkecil peluang penurunan suku bunga The Fed.
Situasi tersebut juga berdampak pada kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, baik untuk tenor jangka pendek maupun panjang. Dampaknya, dolar AS semakin menguat dan terjadi arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi pergerakan modal, Perry menyebut pasar saham mengalami arus keluar (outflow) sebesar Rp26,06 triliun selama Januari hingga Maret 2026. Sementara itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatat outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.
Adapun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat arus masuk (inflow) pada Januari dan Februari, sebelum akhirnya berbalik mengalami outflow pada Maret akibat meningkatnya tensi geopolitik global.








