Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.000, Apa Dampaknya pada Ekonomi ?

×

Rupiah Tembus Rp17.000, Apa Dampaknya pada Ekonomi ?

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah
Ilustrasi: Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar rupiah akhirnya jebol menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data resmi Bank Indonesia (BI), kurs jual dolar AS tercatat di Rp17.047,81, sementara kurs beli berada di Rp16.878,19, menandai titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Meski rupiah sempat menguat tipis pada pembukaan pasar spot di level Rp16.929 per dolar AS, tekanan pasar global dan domestik membuat rupiah kembali tertekan hingga ditutup melemah dibandingkan hari sebelumnya.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Bima Yudhistira, menilai tembusnya rupiah kenlevel Rp17.000 bukan sekadar persoalan teknis pasar, melainkan sinyal serius ancaman inflasi impor yang dapat menghantam daya beli masyarakat.

“Kenaikan harga barang impor, terutama pangan dan komoditas penting, tidak terhindarkan. Dampaknya langsung dirasakan rumah tangga,” ujar Bima.

Tekanan rupiah juga diprediksi memukul sektor konsumsi. Harga kendaraan bermotor, properti, hingga cicilan KPR dan kredit kendaraan berpotensi naik akibat tingginya ketergantungan pada komponen impor.

Dari sisi dunia usaha, pelemahan rupiah menyebabkan biaya produksi melonjak. Kondisi ini menurunkan daya saing industri dan meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Analis Blue Financial Futures, Lukman Lille, menyebut pasar semakin defensif akibat kekhawatiran defisit APBN yang mendekati atau bahkan melampaui batas 3 persen, ditambah ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia.

“Sentimen pasar menjadi negatif terhadap aset rupiah,” katanya.

Beban juga kian berat di sisi fiskal. Utang pemerintah dalam denominasi dolar otomatis membengkak, meningkatkan kewajiban bunga dan cicilan yang berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Situasi diperkeruh oleh faktor politik. Dinamika pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia dinilai menambah ketidakpastian kebijakan moneter, membuat investor memilih menahan diri.

Bima menegaskan, secara historis, mengembalikan rupiah ke bawah Rp16.700 bukan perkara mudah.

“Tanpa perbaikan fundamental—pengendalian defisit APBN, peningkatan ekspor, dan kebijakan moneter yang kredibel—tekanan rupiah akan terus berlanjut,” pungkasnya.