JAKARTA – Harga emas dunia mengalami tekanan hingga sempat turun di bawah level psikologis US$4.000 per ons troi pada perdagangan akhir Oktober 2026. Pelemahan tersebut dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Di pasar domestik, harga emas Antam justru tercatat berada di level Rp2,55 juta per gram pada perdagangan 28 Oktober 2026, memperlihatkan perbedaan arah yang mencolok.
Berdasarkan laporan Reuters, harga emas spot sempat berada di US$4.000,52 per ons pada perdagangan Selasa, turun 0,4 persen. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,6 persen menjadi US$4.014,40 per ons. Pada perdagangan Asia, harga emas spot juga sempat turun hingga US$3.994,88 per ons.
Meski sempat jatuh di bawah US$4.000, harga emas dunia kembali bergerak naik dalam perdagangan berikutnya. Data pasar pada pagi 28 Oktober menunjukkan harga spot berada di sekitar US$4.069,10 per ons pada pukul 07.11 WIB. Dengan demikian, penurunan di bawah level tersebut tidak berlangsung sebagai kondisi yang terus bertahan sepanjang perdagangan.
Di dalam negeri, harga jual emas Antam ukuran 1 gram tercatat Rp2.550.000 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Berdasarkan data perdagangan yang tersedia, harga emas Antam tersebut naik Rp10.000 dibandingkan posisi sebelumnya Rp2.540.000 per gram. Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback tercatat Rp2.345.000 per gram.
Perbedaan arah pergerakan emas dunia dan emas Antam dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Harga emas internasional menjadi salah satu acuan utama, tetapi harga domestik juga dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, serta kebijakan harga penjual. Selain itu, waktu pembaruan harga juga berpengaruh terhadap hasil perbandingan.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang menekan logam mulia. Ketika mata uang AS menguat, emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Reuters melaporkan bahwa dolar AS menguat sekitar 0,3 persen terhadap sejumlah mata uang utama, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi turut membebani daya tarik emas.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah arah kebijakan suku bunga The Fed. Menjelang keputusan bank sentral AS pada akhir Oktober, investor mencermati apakah suku bunga akan dipertahankan serta bagaimana sinyal kebijakan untuk bulan-bulan berikutnya. Suku bunga yang bertahan tinggi cenderung meningkatkan daya tarik instrumen berbunga, sedangkan emas tidak memberikan bunga secara langsung.
Kekhawatiran terhadap inflasi juga ikut memengaruhi pasar. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Situasi ini menempatkan emas dalam posisi yang cukup rumit, karena di satu sisi emas kerap digunakan sebagai pelindung nilai ketika inflasi meningkat.
Bagi investor di Indonesia, harga jual saja tidak cukup untuk menilai apakah pembelian emas menguntungkan. Selisih antara harga jual dan buyback perlu diperhitungkan karena menjadi salah satu biaya tidak langsung dalam transaksi. Dengan harga jual Rp2.550.000 dan harga buyback Rp2.345.000 per gram, terdapat selisih Rp205.000 per gram yang harus ditutup investor.
Ke depan, arah harga emas dunia masih akan dipengaruhi oleh keputusan The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, inflasi, dan perkembangan geopolitik. Level US$4.000 per ons tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keputusan jual beli dan sentimen investor. Masyarakat yang hendak membeli atau menjual emas sebaiknya memeriksa pembaruan harga resmi dan membandingkan harga jual dengan buyback.





