Ekonomi

Surabi Bandung: Bertahan Sejak 1923, Kini Dikepung Topping!

×

Surabi Bandung: Bertahan Sejak 1923, Kini Dikepung Topping!

Sebarkan artikel ini
Surabi Bandung, kuliner tradisional berbahan tepung beras dan santan yang masih bertahan hingga 2026
Surabi Bandung, kuliner tradisional berbahan tepung beras dan santan yang masih bertahan hingga 2026

BANDUNG – Surabi menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih mudah dijumpai di berbagai sudut Kota Bandung. Jajanan berbahan dasar tepung beras dan santan ini dikenal dengan aroma khas hasil pemanggangan di atas tungku. Kuliner surabi Bandung pun tetap diminati masyarakat karena menawarkan cita rasa tradisional dengan harga terjangkau.

Sejarah surabi memiliki kaitan erat dengan tradisi kuliner masyarakat Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat. Kudapan ini telah dikenal sejak lama dan berkembang dalam berbagai bentuk sesuai kebiasaan daerah masing-masing. Catatan mengenai surabi Bandung banyak mengacu pada keberadaannya dalam tradisi kuliner sejak awal abad ke-20, termasuk sekitar 1923.

Surabi tradisional umumnya dibuat menggunakan tepung beras, santan kelapa, sedikit garam, dan terkadang bahan tambahan seperti pandan. Adonan dimasak menggunakan wajan kecil dari tanah liat di atas tungku berbahan bakar kayu atau arang. Teknik memasak tersebut menghasilkan bagian bawah yang matang dan sedikit kecokelatan, sementara bagian tengahnya tetap lembut.

Dalam perkembangannya, surabi Bandung dikenal melalui dua kelompok rasa utama, yakni manis dan gurih. Surabi manis disajikan dengan kuah kinca dari gula merah, sedangkan surabi gurih kerap menggunakan oncom berbumbu. Kedua varian tersebut mencerminkan penggunaan bahan pangan lokal yang telah lama menjadi bagian tradisi kuliner Sunda.

Memasuki era modern, kuliner surabi Bandung mengalami perubahan melalui penambahan berbagai topping lebih beragam. Cokelat, keju, pisang, susu kental manis, sosis, telur, abon, hingga mayones menjadi pilihan yang melengkapi varian klasik. Inovasi tersebut membuat surabi tidak lagi identik dengan jajanan pasar, tetapi juga hadir sebagai camilan yang menyasar konsumen muda.

Perkembangan surabi juga terlihat dari munculnya kedai-kedai yang bertahan puluhan tahun. Surabi Cihapit dikenal sebagai salah satu tempat yang telah berjualan sejak 1993, sementara Surabi Mirasa mulai beroperasi pada 1986 dan dikenal mempertahankan cara memasak tradisional. Keberadaan usaha-usaha tersebut menunjukkan bahwa konsistensi rasa dan hubungan dengan pelanggan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kuliner lokal.

Pada 2026, surabi masih menjadi bagian dari pilihan wisata kuliner di Bandung. Sejumlah tempat yang dikenal masyarakat antara lain Surabi Enhai, Surabi Cihapit, dan Surabi Imut. Masing-masing menawarkan karakter dan pilihan rasa berbeda, sehingga konsumen dapat memilih sesuai selera.

Harga surabi tradisional di sejumlah tempat berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp10.000 per porsi, sedangkan varian dengan topping mencapai Rp12.000 hingga Rp15.000. Meski inovasi terus berkembang, pelestarian sejarah surabi tetap menghadapi tantangan, mulai dari persaingan dengan jajanan kekinian hingga menjaga konsistensi bahan dan rasa. Perpaduan teknik tradisional dan pengelolaan usaha modern menjadi kunci agar kuliner surabi Bandung tetap relevan bagi generasi berikutnya.