BANDUNG – Hujan deras yang mengguyur kawasan Bandung Raya membuat Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kembali diterjang banjir, Sabtu (23/5/2026). Luapan Sungai Citarum, Cigede dan Cipalasari merendam permukiman warga hingga menyebabkan kemacetan panjang di jalur utama Bandung Selatan.
Genangan air dengan ketinggian antara 10 hingga 80 sentimeter merendam sejumlah kawasan di Desa Dayeuhkolot. Beberapa titik terdampak di antaranya Kampung Babakan Sangkuriang, Citeureup, Cilisung, Bojong Asih hingga kawasan Kaum.
Pantauan di lapangan, Senin (25/5/2026), genangan juga masih terlihat di Jalan Raya Dayeuhkolot depan Kantor Pos dan Jalan M Toha tepat di depan PT Metro Garment. Ketinggian air di ruas jalan utama berkisar 20 hingga 30 sentimeter atau setinggi betis orang dewasa.
Akibatnya, arus kendaraan dari arah Majalaya menuju Kota Bandung maupun sebaliknya mengalami kepadatan parah dan bergerak lambat. Pengendara roda dua terlihat berhati-hati melintasi genangan demi menghindari mogok di tengah kemacetan.
Meski demikian, aparat gabungan bergerak cepat melakukan penanganan dan evakuasi warga terdampak. Petugas dari kecamatan, pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPD hingga unsur kewilayahan turun langsung ke lokasi banjir.
Camat Dayeuhkolot, Asep Suryadi mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi lintas instansi guna memastikan keselamatan warga.
“Koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan, termasuk monitoring lokasi dan penanganan warga terdampak,” ujar Asep.
Sebanyak 11 kepala keluarga dengan total 27 jiwa untuk sementara mengungsi di shelter Desa Dayeuhkolot. Para pengungsi berasal dari wilayah RW 05 dan RW 14 yang terdampak cukup parah akibat luapan sungai.
Selain menyiapkan kebutuhan dasar bagi pengungsi, petugas juga terus memantau debit air di sejumlah titik rawan banjir. Warga diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan apabila hujan deras kembali mengguyur kawasan Bandung Selatan dalam beberapa hari ke depan.
Banjir yang kembali mengepung Dayeuhkolot diduga dipicu tingginya debit air kiriman ke Sungai Citarum, Cigede dan Cipalasari. Kondisi tersebut diperparah buruknya sistem drainase serta berkurangnya daerah resapan air di sepanjang DAS Citarum akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan industri dan permukiman padat.




