BERLIN – Rasa muak terhadap Israel semakin menguat setelah insiden Perlakuan Biadab Israel pada aktivis pro-Palestina dalam armada bantuan Gaza. Anggota Parlemen Uni Eropa asal Italia dan mantan diplomat Uni Eropa mendesak pemberian sanksi keras pada Pemerintah Israel bukan hanya pada perorangan.
Kecaman muncul usai Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengunggah video yang memperlihatkan aktivis flotilla Gaza dalam kondisi tangan terborgol dan harus bersujud usai dicegat pasukan Israel di laut.
Dalam video tersebut, para aktivis tampak dipaksa berlutut di atas dek kapal sambil mendapat ejekan dari Ben-Gvir.
Anggota Parlemen Uni Eropa asal Italia, Angelo Bonelli, dalam wawancara televisi DW News menilai tindakan Israel sudah melampaui penanganan keamanan biasa dan masuk kategori pelanggaran kemanusiaan.
“Yang terjadi bukan hanya terhadap aktivis flotilla, tetapi juga apa yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat, di mana kejahatan terhadap kemanusiaan dilakukan pemerintahan Netanyahu,” ujarnya.
Bonelli juga menyoroti serangan terhadap rumah sakit di Gaza yang disebut tidak dapat dibenarkan.
“Rumah sakit dibom tentara Israel. Bagi saya itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menegur Ben-Gvir dan menyebut perilakunya tidak sesuai nilai serta norma Israel.
Namun kritik terhadap Netanyahu terus menguat karena Ben-Gvir tetap dipertahankan di kabinet pemerintahan.
“Jika Netanyahu tidak setuju dengan Ben-Gvir, maka seharusnya dia dikeluarkan dari pemerintahan,” ujar Bonelli.
Kritik serupa datang dari mantan perwakilan Uni Eropa untuk wilayah Palestina Sven Kuhn von Burgsdorff yang menyebut tindakan Ben-Gvir justru mencerminkan wajah asli kebijakan Israel selama perang di Gaza.
“Ketika Netanyahu mengatakan itu bukan wajah Israel, saya tidak setuju. Justru itulah wajah Israel selama ini,” ujar Burgsdorff dalam wawancara dengan DW News dari Bayonne, Prancis.
Ia menilai teguran Netanyahu kepada Ben-Gvir hanya bagian dari manuver politik menjelang pemilu Israel yang dipercepat pada September mendatang.
“Netanyahu sedang mencoba merebut suara kelompok ultra-kanan,” kata Burgsdorff.
Mantan diplomat UE itu juga mendesak Uni Eropa segera mengambil langkah tegas terhadap Israel atas perlakuan terhadap aktivis kemanusiaan dan situasi di Palestina.





