TEHERAN — Eskalasi konflik besar di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas menyusul operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam Teheran.
Informasi tersebut mencuat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan operasi militer terbaru menargetkan langsung kepemimpinan tertinggi Iran.
Stasiun televisi nasional Iran serta kantor berita resmi IRNA melaporkan Khamenei telah meninggal dunia. Namun hingga kini pemerintah Iran belum memberikan penjelasan rinci terkait penyebab maupun kronologi kematian tersebut.
Dalam siarannya, IRNA mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari di seluruh wilayah Iran, sebuah tradisi penghormatan tertinggi dalam sistem politik dan keagamaan Republik Islam Iran.
Laporan tersebut sekaligus memperkuat klaim pejabat tinggi Israel yang sebelumnya menyebut jenazah Khamenei ditemukan pasca serangan udara besar-besaran di ibu kota Teheran. Operasi militer itu disebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis, termasuk kompleks kediaman resmi pemimpin tertinggi Iran.
Sumber intelijen Israel mengklaim terdapat “indikasi kuat” bahwa Khamenei tewas dalam serangan tersebut setelah proses identifikasi dilakukan terhadap korban di lokasi serangan.
Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer gabungan Amerika Serikat–Israel yang dalam beberapa hari terakhir meningkatkan tekanan terhadap Teheran di tengah runtuhnya jalur diplomasi terkait program nuklir Iran.
Meski demikian, hingga laporan ini diturunkan, otoritas tertinggi Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi final mengenai status kepemimpinan nasional maupun mekanisme suksesi pasca wafatnya Khamenei.
Situasi ini memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi eskalasi konflik terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, mengingat Iran sebelumnya telah menyatakan siap melakukan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Perkembangan terbaru konflik ini masih terus berlangsung dan berpotensi mengubah peta geopolitik global secara signifikan.








