Internasional

Profesor Columbia University: Serangan ke Iran Demi Hegemoni AS di Timur Tengah

×

Profesor Columbia University: Serangan ke Iran Demi Hegemoni AS di Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Profesor Jeffrey Sachs, ekonom dan akademisi dari Columbia University
Profesor Jeffrey Sachs, ekonom dan akademisi dari Columbia University

NEW DELHI – Profesor Jeffrey Sachs, ekonom dan akademisi dari Columbia University, melontarkan kritik keras terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Dalam wawancara dengan NDTV India, Sachs menyebut operasi militer tersebut sebagai upaya mempertahankan hegemoni global Washington.

Video pernyataannya viral di berbagai platform media sosial. Sachs secara blak-blakan menyebut konflik ini bukan soal ancaman nuklir Iran, melainkan perebutan kendali geopolitik dan energi di Timur Tengah.

“Ini adalah upaya Amerika Serikat untuk mempertahankan hegemoni globalnya. Ini perang untuk mengontrol Timur Tengah dan minyaknya. Ini bukan soal ancaman Iran seperti yang dikatakan Donald Trump,” tegas Sachs.

Menurutnya, narasi ancaman nuklir Iran hanyalah dalih. Ia mengingatkan bahwa perjanjian nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pernah menempatkan Iran di bawah rezim pengawasan ketat sebelum dicabut sepihak oleh Presiden Donald Trump.

Sachs bahkan menyebut eskalasi saat ini sebagai potensi awal perang global yang lebih luas.

“Saya berharap ini bukan awal kehancuran nuklir, tetapi ini perang global untuk dominasi,” ujarnya.

Ia menilai target strategis konflik ini bukan hanya Iran, tetapi juga China dan negara-negara Asia lain, termasuk India. Menurut Sachs, Asia berpotensi menjadi pihak yang paling dirugikan jika konflik meluas dan jalur energi terganggu.

Ketika ditanya soal kemungkinan eskalasi lanjutan, Sachs menyatakan skeptis terhadap peluang de-eskalasi dari pihak Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut kedua negara sebagai aktor hegemonik dengan agenda jangka panjang.

Sachs juga menyinggung kuatnya pengaruh politik Israel di Amerika Serikat. Ia menilai kebijakan luar negeri Washington terhadap Timur Tengah tidak sepenuhnya merefleksikan aspirasi publik Amerika.

Lebih jauh, ia memperingatkan potensi dampak strategis di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global. Penutupan jalur tersebut, menurutnya, dapat memicu guncangan ekonomi besar-besaran.

Sebagai catatan historis, Sachs merujuk pada operasi intelijen Barat tahun 1953 ketika Central Intelligence Agency bersama MI6 menggulingkan pemerintahan Iran saat itu. Namun ia meragukan skenario serupa bisa dengan mudah terulang di era sekarang.

“Iran bukan negara kecil yang tidak siap. Ini negara besar dengan populasi hampir 100 juta orang, wilayah luas, dan pengalaman panjang menghadapi tekanan eksternal,” katanya.

Di tengah dinamika terbaru, termasuk komunikasi antara Perdana Menteri Israel dan Presiden Amerika Serikat, Sachs memperkirakan arah kebijakan tetap pada eskalasi tekanan terhadap Teheran.

Meski demikian, ia menilai upaya menjatuhkan pemerintahan Iran bukan perkara mudah dan berisiko menimbulkan konsekuensi global yang jauh lebih luas dari yang diperkirakan.

Konflik yang terus berkembang ini kini menjadi perhatian dunia, dengan kekhawatiran bahwa percikan di Timur Tengah dapat berubah menjadi krisis geopolitik berskala global bahkan memicu perang dunia III.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *