JAKARTA – Umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah akan disuguhi fenomena langka di langit malam. Pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 H, diprediksi terjadi Gerhana Bulan Total yang dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia jika cuaca cerah.
Fenomena ini telah diprediksi secara astronomis oleh berbagai lembaga falak dan sains, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Bulan Memerah di Tengah Ramadhan
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari tidak langsung mencapai permukaan Bulan. Dalam kondisi tersebut, cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi akan dibiaskan dan hanya menyisakan spektrum merah.
Akibatnya, Bulan akan tampak berwarna kemerah-merahan, yang populer disebut sebagai “blood moon”.
Karena gerhana bulan hanya terjadi saat fase purnama, maka momen ini bertepatan dengan pertengahan bulan Hijriah, yakni malam ke-14 Ramadhan.
Jadwal Gerhana di Indonesia
Berdasarkan perhitungan astronomi, fase gerhana di Indonesia diperkirakan berlangsung sebagai berikut:
- Gerhana sebagian mulai sekitar pukul 16.49 WIB
- Awal totalitas sekitar pukul 18.04 WIB
- Puncak gerhana antara pukul 18.30–18.40 WIB
- Akhir totalitas sekitar pukul 19.00–19.02 WIB
- Durasi fase totalitas diperkirakan sekitar 58 menit.
Karena terjadi setelah Matahari terbenam, masyarakat Indonesia berpeluang besar menyaksikan fase total secara langsung, terutama dengan pandangan mengarah ke timur.
Tidak seperti gerhana Matahari, fenomena ini aman dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus.
Momentum Ilmiah dan Spiritual
Selain menjadi fenomena astronomi yang menarik, gerhana bulan juga memiliki makna dalam tradisi keagamaan Islam. Sejumlah organisasi Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, kerap mengingatkan umat untuk melaksanakan shalat gerhana (shalat khusuf) saat fenomena ini terjadi.
Dalam perspektif ilmu falak, gerhana menjadi bukti presisi pergerakan benda langit yang dapat dihitung jauh hari sebelumnya. Sementara dalam dimensi spiritual, ia menjadi momentum refleksi atas kebesaran ciptaan Tuhan di tengah bulan suci.
Gerhana Matahari Cincin
Sebelumnya, pada 17 Februari 2026, juga terjadi Gerhana Matahari Cincin atau “ring of fire”. Bagi sebagian besar pakar, fenomena tersebut berlangsung sebelum Ramadhan dimulai, sehingga tidak termasuk gerhana yang terjadi di dalam bulan puasa. Namaun sebagian pakar menilai gerhana tersebut terjadi di awal Ramadhan karena fenoma tersebut terpantau di wilayah Pasifik dan Amerika Selatan meski tidak terpantau di Indonesia dan wilayah lainnya.
Dengan langit yang bersih dari awan, malam 14 Ramadhan nanti berpotensi menjadi salah satu momen paling berkesan selama ibadah puasa tahun ini.
Umat disarankan banyak beristighfar dan ingat kiamat karena sebagian ulama meyakini gerhana di bulan ramadhan adalah tanda menjelang munculnya Imam Mahdi.








