MAJALENGKA — Gununglaya Argasari, Talaga Banjaran, Rabu siang itu tidak sekadar menjadi lokasi milangkala sebuah paguyuban budaya. Tempat itu seperti sedang menghidupkan kembali ingatan lama: bahwa Majalengka pernah menjadi salah satu simpul penting peradaban Sunda.
Di kaki pegunungan yang mengelilingi kawasan Talaga, suara kendang, jaipong, silat, hingga debus menyatu dengan udara dingin pegunungan. Warga datang berbondong-bondong. Mereka tidak sedang menonton pertunjukan biasa. Mereka sedang mencari identitasnya sendiri.
Milangkala pertama Paguyuban Budaya Dangiang Rundayan Talaga itu dihadiri banyak tokoh. Mulai dari Bupati Majalengka Eman Suherman, Ketua Umum Majelis Adat Sunda Jawa Barat Anton Charliyan, utusan Keraton Cirebon, tokoh budaya, hingga berbagai komunitas adat dari Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur.
Namun yang paling menarik bukan seremoni itu. Melainkan arah pesan yang muncul.
Bupati Eman berkali-kali mengucapkan satu kata: SAE.
Dalam bahasa Sunda, sederhana artinya: baik. Tapi di tangan Eman, “SAE” berubah menjadi jargon pembangunan budaya.
“Pemajuan budaya di Majalengka harus langkung sae, bahkan sae pisan,” ujar Eman.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan banyak daerah di Jawa Barat hari ini: budaya Sunda mulai kalah gaduh oleh hiruk-pikuk modernitas.
Eman tampaknya sadar, Majalengka tidak bisa hanya mengandalkan bandara internasional atau pembangunan fisik. Daerah ini perlu identitas yang lebih dalam: budaya.
Ia menyebut modal sosial Majalengka cukup lengkap. Ada Museum Talaga Manggung, situs sejarah, kuliner khas, batik lokal, dan bentang alam pegunungan yang masih terjaga.
Tetapi Abah Anton melangkah lebih jauh.
Mantan Kapolda Jawa Barat itu justru mengingatkan bahwa Majalengka bukan daerah biasa dalam sejarah Sunda.
“Di sini pernah lahir tiga kerajaan besar Sunda sekaligus: Talaga Manggung, Raja Galuh, dan Sindangkasih,” katanya.
Pernyataan itu penting. Sebab selama ini, pusat narasi budaya Sunda lebih sering berputar di Bandung, Sumedang, atau Cirebon. Padahal Majalengka menyimpan lapisan sejarah yang tidak kalah kuat.
Abah Anton bahkan menyebut Majalengka layak menjadi salah satu pusat pemajuan budaya Sunda di Jawa Barat.
Di tengah derasnya budaya digital dan politik pencitraan, acara seperti ini menjadi penanda: masih ada kelompok masyarakat yang percaya budaya bukan sekadar tontonan festival.
Budaya adalah perekat identitas.
Dan Majalengka tampaknya sedang mencoba merebut kembali peran itu.








